Minggu, 19 Mei 2013

Qatameya

Kalau mau diingat-ingat betul sebenarnya aku tak pernah sadar kapan surat itu datang. Jadi ketika suatu pagi aku menemukannya diatas meja kopi dekat beranda, mau tak mau aku jadi penasaran juga.

Surat itu sederhana saja. Amplop putih dengan perangko bergambar piramida mesir bertuliskan 5 pound. Dibagian depan tertulis huruf arab gundul yang dapat dibaca: Alduu, namaku dengan alamat rumahku dalam tulisan latin. Yang membuatku penasaran adalah nama pengirim dan dari mana surat itu dikirim. Tulisan arab gundul membuatku kesulitan juga. Perlahan-lahan kucoba baca tapi aku tak tahu juga siapa. Hanya alamat yang aku bisa baca perlahan: Qatameya, Kairo.

Saat kubuka surat aku sungguh berharap bahwa ia menggunakan bahasa Inggris atau Indonesia. Amplop itu berisi kertas yang dilipat dua dengan hanya berisi beberapa baris. Tapi payah juga, lagi-lagi tulisan arab gundul. Aku menggeleng pelan dan tertawa. Siapa pula yang mengirim surat jauh-jauh dari Mesir untukku.

Besok pagi aku tanya temanku yang fasih berbahasa Arab. Ia bilang surat itu datang dari seorang bernama Amirra dari Qatameyya. Isi surat itu hanya sederhana saja: 

Rumah kami memang tak besar, namun tuan akan merasa nyaman di sini. Silakan berkunjung kapan saja kemari. 

Temanku duga dari tulisannya Amirra ini adalah seroang wanita tua. Aku ucapkan terima kasih padanya. Ia kemudian menanyakan apakah aku akan pergi ke Kairo dalam waktu dekat? Aku menggeleng dan mengatakan tidak tahu.

Lalu kesibukkan pekerjaan menghantamku dan membuatku lupa pada surat itu. Sampai suatu ketika beberapa bulan kemudian bosku menyuruhku untuk pergi training lagi ke Mesir. Kemudian aku ingat kembali pada surat itu.

Di pesawat aku sebenarnya tak begitu memperdulikan tentang surat itu. Aku hanya penasaran tentang siapa dia dan kenapa ia mengundangku jauh-jauh. 12 jam lebih aku di pesawat dan transit beberapa kali di Chang-i dan Abu Dhabi. Sampai saatnya aku melihat Mesir dari udara, aku ingat betapa penuhnya tempat ini dengan padang pasir.

Sebelumnya aku pernah kesini beberapa kali. Kebetulan perusahaanku bekerja adalah sebuah perusahaan Mesir. Jadi training-training dan beberapa kegiatan penting sering kali diadakan disini. Terakhir aku kesini adalah dua tahun lalu. Aku ingat aku tinggal hampir 3 bulan disini untuk training. Dikatakan training pun sebenarnya tidak tepat, aku lebih sering berjalan-jalan dan berwisata dariapada belajar. 

Selama disana aku diberikan apartemen cukup bagus di kawasan Garden City, Kairo. Awalnya aku naik mobil perusahaan. Tapi ampun, pengendara mobil disini gila-gila. Semua mobil pasti punya bekas penyok sebagus apapun mobilnya. Aku hanya tahan mengendarai mobil selama 3 hari kemudian aku meminta supir atau naik kendaraan umum dan taksi.

Akhirnya aku turun di bandara. Seseorang dari perusahaan menjemputku dan mengantarkanku ke apartemen yang sama yang sempat kutempati dulu. Aku tertidur lelap hari pertama aku sampai di Mesir mencoba mengusir lelah dan Jet-Lag.

Beberapa minggu aku sibuk dengan training yang diberikan oleh perusahaanku. Lalu akhirnya ada waktu santai. Aku sekarang mencoba mengunjungi alamat dalam surat yang kuterima tempo hari. Aku berikan secarik kerta berisi alamat itu pada supir kantor kemudian aku dibawanya berjalan cukup jauh.

Lalu aku sampai disuatu rumah. Aku tanya apakah benar ini alamat yang tertulis. Ia mengagguk mantap dan mengatakan bahwa ia yakin disinilah rumahnya. Aku tersenyum lantas berujar bahwa agar aku ditinggal saja biar aku pulang naik taksi nanti. Ia mengangguk kemudian izin pergi.

Aku bunyikan bel namun tak ada orang yang keluar. Kucoba perhatikan perlahan rumah itu: coklat, hanya dan satu lantai. Di halaman depannya taman kecil tapi penuh dengan pot-pot tanaman. Aku tunggu beberapa menit sampai kuputuskan untuk memencet bel sekali lagi.

Kemudian keluar seorang wanita tua dengan nampak bingung. Ia bertanya dalam bahasa Arab siapa aku.

"Ana, Alduu." Aku Aldo ujarku dalam bahasa Arab.

Kemudian aku tunjukkan surat itu yang kemudian membuat senyum merekah di mulutya. Ia menyuruhku masuk dan duduk di beranda. Kemudian ia ke dalam rumah dan mengambil segelas air.

"Syukron." Terima kasih. 

Mendadak ia berbicara dalam bahasa Arab panjang lebar. Ah, mana bisa aku bahasa Arab. Aku hanya mengerti sedikit-sedikit kosakata umum selain itu aku tak mengerti apa-apa.

"Lā atakallam `arabi." Aku tak lancar berbahasa Arab. Ia memandangku tak percaya kemudian meneriakkan sebuah nama.

"Ahmad! Ahmad!" panggilnya.

Yang dipanggil kemudian muncul. Pemuda, kukira masih berusia 15 tahun. Ahmad ternyata cukup fasih berbahasa Inggris. Ia menerjemahkan apa yang dibicarakan oleh wanita tua itu kepadaku.

Nama wanita ini Amirra. Ia punya dua orang anak, salah satunya Ahmad. Suaminya sudah meninggal cukup lama. Ia berkali-kali takut bahwa surat yang ia kirim tak pernah sampai padaku. Aku kemudian menanyakan lewat Ahmad darimana Amirra mendapat alamatku. Wanita itu kemudian tersenyum kemudian berkata pelan,

"Maria."

Aku terkejut. Ah tentu saja Maria! Bagaimana aku bisa lupa dengan gadis itu. Aku berkenalan dengannya saat aku disini training dahulu. Aku beberapa kali berpapasan dengannya ketika naik kendaraan umum sampai akhirnya aku beranikan diri untuk berkenalan dengannya.

Aku ingat senyum manisnya, apa lagi yang bisa kuingat. Aku tak peduli pada pandangan-pandangan orang di bis terhadapku saat itu. Gadis itu seperti bersinar dan aku tak bisa mengalihkan mataku darinya. Kita kemudian menjadi akrab. Saat aku menanyakan dimana aku bisa membeli oleh-oleh ia mengantarku ke Khan el-Khalili dan membantuku membeli dengan harga pantas.

Aku ingat tentang malam yang kita habiskan berdua. Ia selalu bilang bahwa ia tak suka Mesir karena cuacanya. Aku tertawa kemudian berkata bahwa ia mungkin juga tak akan suka Indonesia karena sama panasnya. Ia menggeleng. Sambil tersenyum ia berkata,

"Aku akan suka Indonesia. Kalau bersamamu aku suka."

Dikatakan seperti itu mau tak mau aku jadi salah tingkah juga. Ya Tuhan, siapa pula yang tak mau seumur hidup tinggal bersama gadis secantik ini? Aku mengalihkan pembicaraan mengenai pekerjaan. Ia bilang ia mengajar di sebuah sekolah berbahasa Inggris. Tidak heran bahasa Inggrisnya sebaik ini.

Saat berjalan bersama dia aku merasa bahwa aku yang selama ini di Indonesia tak pernah ada. Aku yang ada hanyalah aku yang berjalan bersamanya. Aku tak tahu apakah ini cinta yang pasti aku selalu merasa seperti bermimpi saat berjalan bersamanya.

Sampai akhirnya aku harus pulang. Aku janjikan ia aku akan tetap menghubunginya. Ia hanya mengangguk. Aku berikan alamat rumah dan nomor telepon rumahku. Aku bilang ia boleh menghubungiku kapan saja. Ia hanya mengangguk. Aku peluk erat ia. Ia kemudian menangis.

Untuk sesaat aku teringat segala sesuatu tentang Maria. Aku kemudian menyesal kenapa tak pernah menghubunginya. Kuterka-terka apa yang membuatku lupa. Mungkin karena pekerjaan, mungkin karena waktu, atau mungkin karena bosan. Yang pasti saat ini aku menyesal setengah mati tak pernah menghubunginya selama ini.

Aku kemudian bertanya, dimana Maria sekarang. Ibu dan anak itu kemudian saling melihat. Dengan senyum yang dibuat-buat, Amirra menjawab

"Maria sudah meninggal."

Aku tercekat. Tidak mungkin. Maria yang selalu ada diingatanku adalah Maria yang selalu ceria dan penuh hidup. Ketika lantas dikatan ia sudah meninggal, sekujur tubuhku terasa lemas. Aku berharap ia sedang bercanda lalu aku sadari tidak mungkin ia bercanda tentang hal semacam ini. Berikutnya aku berharap aku sedang bermimpi.

"Kapan? Karena apa?" tanyaku.

Amirra bilang, Maria anaknya sudah sakit sejak lama. Dokter awalnya mengira ia hanya radang tenggorokan biasa namun ternyata ia mengidap kanker tenggorokan. Ia jatuh sakit tak lama setelah aku pergi. Ketika akhirnya ia tak mampu lagi melawan penyakitnya, akhirnya ia meninggal sekitar satu tahun lalu. Amirra menemukan alamat rumahku dari sebuah laci di kamar Maria.

Ia melanjutkan bahwa sebenarnya ia ingin langsung bilang disurat itu bahwa Maria sudah meninggal. Tapi ia merasa tindakan itu kurang pantas makanya ia menulis surat semacam itu. Ia kirimkan surat itu tepat sebulan setelah Maria meninggal. Namun pada akhirnya aku baru mendapatkannya beberapa minggu lalu.

Saat aku dengar semua cerita itu aku merasa semua ini tidak nyata. Aku yang datang jauh-jauh dari Indonesia tak pernah menyangka akan mendapat cerita semacam ini. Seorang gadis yang dulu aku kagumi ternyata sudah meninggal. Aku kemudian menanyakan kenapa tidak memberi tahuku sewaktu ia sakit.

 Ia bilang bahwa Maria tak ingin membuatku repot. Amirra bercerita tentang Maria yang selalu menceritakan cerita tentangku dengan bahagia. Amirra bilang Maria diam-diam berharap bahwa kalian berdua akan menikah dan tinggal di Indonesia. Tapi ketika tahu sakit yang ia derita, ia perlahan-lahan mengurungkan idenya. 

Diam-diam Maria selalu mengharapkan akan hadir surat atau telepon dariku namun tak kunjung datang pula. Maria kemudian sadar mungkin aku sudah melupakannya. Maria berkata pada ibunya bahwa mungkin ini memang yang terbaik. Jadi ia minta pada ibunya untuk tidak memberitahuku bahwa ia sedang sakit. Dan nanti jika ia meninggal, ia minta pula ibunya untuk berjanji untuk tidak memberitahuku. Ia tidak ingin aku merasa sedih.

Namun saat akhirnya anak tertuanya meninggal juga, Amirra tak sanggup menahan diri lagi. Ia merasa bahwa ia harus memberitahuku. Jadi dengan melanggar janjinya kepada anaknya yang sudah meninggal, ia kirimkan surat itu padaku.

Aku diam mendengar semua itu. Aku kemudian merasa tercabik-cabik. Aku menyesal, sungguh menyesal. Aku tak pernah menyangka bahwa aku sedemikian berarti baginya. Aku selalu berfikir bahwa gadis secantik ia tentu tidak akan kesulitan mencari lelaki yang puluhan kali lebih baik bagiku. Tapi pada akhirnya ia tetap memilihku.

Aku merasa bodoh dan tak berdaya sekaligus. Mungkin dalam hidup ini ada beberapa orang yang merasa diri kita jauh lebih penting daripada diri mereka sendiri. Dan mungkin itu yang dirasakan Maria kepadaku. Dan saat aku melupakannya ia bukannya marah, ia malah merasa bersyukur aku tak perlu tahu tentang sakit yang dideritanya.

Perlahan air mataku turun. Bukan hanya sedih yang kurasakan: marah, menyesal, tak berdaya, bodoh, semua bercampur menjadi satu. Aku berharap dapat mengulang waktu lalu kembali duduk di suatu malam dimana ia mengatakan ingin tinggal bersamaku. Lalu aku lamar dia. Dan nanti jika memang pada akhirnya ia meninggal bukankah ia bisa meninggal dalam pelukanku?

Amirra menawarkanku untuk menginap. Aku tampik halus dengan alasan bahwa aku sudah ada apartemen sendiri. Ia kemudian menanyakan lagi apakah aku ingin berkunjung ke makamnya? Aku tampik lagi dan berkata bahwa Maria yang aku kenal adalah Maria yang selalu hidup. Biarkan aku kenang selamanya seperti itu. Amirra mengerti.

Kemudian aku pamit untuk pulang. Amirra dan Ahmad mengangguk. Aku bilang terima kasih dan maaf aku tak bisa berbuat apa-apa. Amirra mendadak memelukku kemudian berkata bahwa ia yang seharusnya meminta maaf karena tidak memberi tahuku dari dulu. Aku memeluknya balik. Aku ingat rasanya seperti saat aku memeluk ibuku.

Sabtu, 18 Mei 2013

Berjalan di tengah hutan

Ia datang jauh dari negerinya. Menjulur beberapa serupa tangan dari lubang kemejanya dan angin pelan-pelan berhembus seakan tak ingin menganggunya.

Ia selalu senang jalan lebar seperti ini. Ia ingat tentang bayang-bayang dan beberapa ekor kenari yang sempat terbang namun jatuh ketika kerikil yang ia tembakkan melesat menabrak kepalanya. Lalu ia hanya akan tertawa-tawa riang kemudian mandi sore.

Pagi itu matahari sedang dalam perjalanan. Kembang merah tua menjulur dari balik sakunya.

"Ah, aku yang sekarang adalah aku yang tampan." ujarnya pada kembang merah tua.

Kembang merah tua itu mengangguk mengantuk diusap angin. Laki-laki itu tetap berjalan menyisir sungai sambil mengingat masa lalu. Dan masa kini rasanya tak pernah ada. Beberapa kali ia menampara pipinya sendiri untuk meyakinkan bahwa dirinya masih benar-benar ada saat ini.

Mimpinya tertinggal. Sementara bola matanya menggelinding diantara ranting pohon dan tumpukan daun, mulutnya menggumam rasa cinta. Ia ingat betul hutan ini. Ia ingat udara yang mengalir dibawah darahnya. Sayang ia tak pernah benar-benar ingat tentang dirinya, jadi ia tak bisa yakin bahwa memang benar-benar dirinya yang berjalan di hutan ini saat ini atau beberapa tahun silam.

Sampai pula ia di sungai. Ia ingat kekasihnya dan tentang betapa ia mencintainya. Kekasihnya pun mencintainya setengah mati. Sayang, maut hanya tersenyum pelan menyaksikan cerita mereka. Giginya menguning dikerak waktu dan bola matanya memerah karena kehabisan air mata.

"Hai bung! Ibumu meninggal kemarin!" jerit suara.

Sebenarnya ia ingat betul itu suaranya namun hati kecilnya selalu berkata bahwa kata-kata yang serupa darinya namun bukan darinya adalah dusta. Dan jemari yang menampar pipimu perlahan-lahan pun mendadak menjadi tamparan sakit yang membuatmu menggigit bibir.

Lalu ia ingat kekasihnya. Ia ingat ibunya. Tak pernah sekalipun ia ingat dirinya, sayang. Ia ingat tentang kembang merah tua yang diberikan oleh ayahnya setiap tahun untuk ibunya. Kembang yang sama tak pernah ia berikan pada kekasihnya. Ia memberikan kembang merah tua yang sama persis namun tetap bukan kembang yang sama.

Di bawah matahari di tengah hutan, ia tersenyum. Tak tahu lagi apa yang sebenarnya ia pikirkan. Ia memikirkan tentang matahari dan segala. Beberapa mungkin tentang bulan dan ibunya. Sayang air matanya mencegah ia untuk berpikir lebih jauh.

Akan pulang kah ia? Aku tak tahu walau aku penulis cerita ini. Aku tahu pasti ia akan berhenti beberapa kali lalu menangis sesengukkan dibawah ceremai. Tapi rumah? Ah, aku tak tahu. Sungguh tak tahu.

Senin, 06 Mei 2013

Kairo

Aku tak tahu jam berapa saat ini. Sungguh. Mungkin karena aku tertidur sore-sore padahal matahari masih bersinar kuat-kuat. Atau karena belum kuset jamku. Aku sebenarnya masih berandai banyak hal dan jam berapa sekarang mungkin bukan salah satu hal penting saat ini.

Namun aku terbangun juga. Aku mengusap muka mengusir kantuk tapi percuma. Di luar tahu-tahu sudah gelap. Aku memutuskan untuk meminum teh.

Aku tarik kakiku perlahan. Ya Tuhan, dinginnya lantai menampar pelan setiap langkah yang aku ambil. Kunyalakan air keran lalu kubasuh mukaku pelan. Wajah kusut dan mengantuk membalas tatapanku dari cermin. Aku hanya tersenyum. 

Air sudah kupanaskan, teh sudah kutaruh siap untuk kuseduh. Aku nyalakan televisi. Orang-orang berbahasa asing berbicara satu sama lain. Aku tak mengerti.

Dan beranda serta angin padang pasir menyapu pelan rambutku. Teh sudah kupegang dan kuseruput pelan. Aku tersenyum. Ah, Kairo

Rabu, 24 April 2013

Libur


"Ya, Tuhan. Apakah memang kamu tak pernah tertidur?"

Aku melirik asal suara itu lalu tersenyum datar. Mataku lelah (sebenarnya) tapi kurahasiakan baik-baik dari diriku sendiri. Kopi mengepulkan asapnya pelan di atas meja sementara kamu berjalan lambat-lambat ke arahku.

"Aku tidur sayang. Hanya saat kamu tak bertanya apakah aku tak pernah tertidur itulah aku benar-benar tertidur, "jawabku ringan.

Kamu menggeleng. "Sinting," ujarmu.

Lalu aku tertawa terbahak-bahak.

***

"Kamu tinggal dimana sekarang?", ujarmu diseberang.

Aku diam. Disekitarku udara dingin seakan-akan membuatku menghilang lambat-lambat. Salju turun tergesa-gesa mengusirku dari telepon umum. Aku diam saja. Dimana lagi aku bisa mendengar suaramu?

"Aku ingin tinggal denganmu selamanya sebenarnya." tak kuucapkan. Dalam hati aku benar-benar berharap kamu mendengarnya.

"Hey, aku tanya kamu tinggal dimana sekarang?" tanyamu sekali lagi.

"Ah," kataku pelan. "Di pinggir kota, ada rumah seorang teman yang kebetulan penghuninya berlibur."

Aku mengarahkan mata kepada matahari. Entah apa maksudku. Kamu katakan aku butuh liburan. Aku tak setuju sebenarnya tapi siapa yang benar-benar bisa tak setuju denganmu?

"Masih di negara yang sama?"

"Tidak," jawabku singkat.

"Bagus," kamu tersenyum dengan suara.

Ah betapa aku merindukanmu dengan jutaaan kilometer yang berada diantara kita. 

Minggu, 17 Maret 2013

Di Kotamu

Ia tak pernah hadir di kotamu. Namun membayangkannya? Sudah jutaan menit ia habiskan untuk itu. Ia rasakan ia berjalan-jalan di aspal kotamu. Gedung-gedung yang terlihat di kejauhan dan air mancur yang membelah sungai, semuanya. Dan juga cerita-ceritamu yang tak pernah habis-habis mengenai kotamu.

Maka tidak aneh jika pada malam ini ia membayangkan apa yang terjadi apabila ia tinggal di kotamu. Jika ia benar-benar berada di kotamu, maka ia  tak perlu terbaring di atas sofa dan membayangkan sedang ia jika tinggal di kotamu. Ia mungkin akan menelponmu dan mengajakmu makan di luar sepulang kamu kerja nanti.

Lalu nanti ia akan datang diam-diam ke kantormu dan bersembunyi di balik meja resepsionis. Satpam dan resepsionis hanya tersenyum menyaksikannya asyik sendiri menyisir rambut dan menata karangan bunga yang ia bawa agar tampak semakin cantik.

Dan saat satpam menyapa namamu sembari mengucapkan selamat sore, ia akan muncul dari balik meja sembari tersenyum menikmati wajah terkejutmu. Sesaat saja kamu tunjukkan wajah terkejutmu karena beberapa detik kemudian kamu akan menyunggingkan senyum yang luar biasa manis.

Setelah kamu nikmati aroma bunga dan kejutan kecil kehadirannya itu, kalian akan berjalan pelan menuju pelataran parkir sepeda motor. Kamu akan menunggu di depan pos depan sembari merapikan make up mu. Sedang ia akan menunggu sabar dari kejauhan karena tahu kamu ingin tampak cantik di depannya. Sebuah tindakan yang sia-sia sebenarnya karena menurutnya kamu sudah terlalu cantik tanpa make up sekalipun.

Selanjutnya kalian akan menaikki vespa kuno yang baru dibeli beberapa bulan lalu. Masih ingat saat terjadi pertengkaran kecil karena kamu tak habis pikir apa gunanya membeli sepeda motor rongsokkan itu. Tapi kemudian kamu seperti anak kecil, tetap keras kepala dan ngotot membelinya. Kemudian ia menyerah, bukan karena rengekanmu, bukan karena kekeras kepalaanmu, tapi semata-mata karena ia tahu betapa berarti motor itu bagimu. Dan bukankah dirimu adalah hal yang paling penting baginya?

Kalian akan berkeliling-keliling di kotamu. Kamu memberikan ide-ide makan dimana sedangkan ia sibuk memilah-milah dan memilih. Ia tak pernah tahu dimana harus makan sedangkan kamu selalu tahu harus makan dimana. Dan bukankah kalian memang cocok satu sama lain?

Vespa kemudian berhenti di depan sebuah kedai kopi yang sudah lama ingin kalian coba. Kalian masuk dan disapa dengan ramah oleh penjaganya. Sepasang suami istri tua dari Itali yang mencoba peruntungannya membuka kedai kopi di kotamu. Kamu tak memesan kopi karena kamu tak pernah kuat dengan kopi. Sedang ia memsan kopi karena ia tak bisa makan tanpa meminum kopi. Dan bukankah kalian memang cocok satu sama lain?

Kamu memesan secangkir teh dengan mint sedangkan ia memesan Macchiato. Matamu kemudian bergulir lucu saat memutuskan makan apa dan itu membuatnya tertawa. Setelah diputuskan bahwa kamu memesan Spaghetti dan ia Lasagna, si Istri Itali yang ramah itu membawa pesanan untuk kemudian dimasak oleh suaminya.

Kamu bercerita betapa kamu ingin seperti suami istri itu: tinggal berdua, mengurus suatu kafe bersama. Ia tersenyum sambil menambahkan bahwa kalian semestinya membuka toko coklat sementara ia akan membuka perpustakaan kecil dibelakangnya. Sebuah ide yang disambut dengan mata berbinar gembira olehmu. 

Pembicaraan kalian terhenti saat pesanan kalian datang. Kamu memuji masakan kedai itu dan memasksa kalian untuk membuat janji untuk ke sini lagi lain kali. Lalu kalian pulang. Kemudian si pemilik kedai itu memberikan bungkusan kecil berisi kue kacang untuk kalian.

Saat kalian bertanya untuk apa, mereka hanya menjawab: "For the cutest couple ever."

Kalian tersenyum tersipu. Dan bukankah kalian memang cocok satu sama lain?

Lalu dikendarainya Vespa itu pulang. Sepanjang jalan kamu bercerita tak habis-habis dan ia mendengarkannya dengan sabar dan senang. Lalu nanti saat pulang, kalian akan tertidur di sofa setelah terlalu capai menonton televisi dengan tangannya mendekap erat pundakmu seakan tak ingin melepasmu.

Sesaat kemudian ia terbangun dan tersadar bahwa ia tadi tertidur di sofa. Ia diam kemudian menangis pelan. Sembari berpikir pelan,

"Kenapa pula aku tak ada di kotamu?"

Sabtu, 16 Maret 2013

Rama-rama

Ia berjalan perlahan di lorong panjang. Tak ingat sama sekali ia kapan ia mulai berjalan tapi tahu-tahu telapak kakinya berdarah. Ia berhenti sebentar, kemudian mengumpat lalu berjalan lagi. Beberapa langkah kemudian dihadapannya tampak sosok hitam, tersenyum menyeringai:

"Makan apa kamu sarapan tadi?"

Ia menatap tak mengerti. Di pergelangan tangannya kemudian muncul rama-rama yang lalu terbang diantara ia dan sosok hitam itu. Mendadak dari sosok hitam itu keluar lidah panjang mencaplok rama-rama itu. Sosok itu tersenyum semakin lebar.

"Aku baru saja memakan rama-rama," ujar sosok hitam itu.

Sosok itu kemudian tertawa kencang lalu menghilang ditelan bayangannya sendiri. Ia mengusap-usap wajahnya tak percaya. Jempolnya menyentuh dagu sementara jemari lainnya menyentuh ubun-ubunnya. Ia rasakan udara semakin berat. Api menyala di kejauhan. Ia berjalan pelan mendekat ke api.

Sesampai di api perlahan muncul sayap dari punggungnya. Dan rambutnya berubah menjadi sungut. Tangannya berubah tipis. Ia menjelma rama-rama.

Perlahan ia lepas landas dari pergelangan tangannya sendiri yang disangkanya api. Dan saat terbang ia merasa bebas luar biasa. Ia tahu ia kecil tapi ia merasa ia bisa berada di manapun. Bahkan sekarang ia berada dimanapun.

Lalu yang terakhir dilihatnya lidah merah panjang yang mencaploknya. Berikutnya ia sudah tak ingat lagi saat gigi-gigi taring putih yang mengoyak tubuhnya tersusun rapih dan menyeringai pelan lalu keluar kata,

"Aku baru saja memakan rama-rama."

Senin, 11 Maret 2013

Kamu pernah kehilangan bola matamu

"Kamu pernah kehilangan bola matamu?"

Aku menggeleng. Kemudian berkata pelan, "Aku tak tahu. Aku tak pernah mengeceknya..."

Lalu kita diam. Di depan kita jalanan tampak semakin sepi. Hanya lampu jalan yang mendesis ringan dari kejauhan tempat kita duduk di halte. Kamu tampak sibuk memperhatikan bayangan dan aku sibuk memperhatikanmu. Aku genggam ringan tanganku sendiri.

"Mengapa kamu memegang tanganmu sendiri?" tanyamu lagi.

Aku hanya diam sembari mengangkat bahu pelan menyiratkan tak tahu. Aku mungkin saja tak tahu. Setelah kupikir lagi aku memang tak tahu mengapa harus mengenggam ringan tanganku sendiri. 

"Haruskah kamu menanyakan tentang segala sesuatu?" balasku.

Kamu menatap mataku. Dan demi Tuhan aku bersumpah itu adalah bola mata yang pernah aku lihat selama ini. Aku mengalihkan perhatian ke arah jalanan. Aku tak mampu lebih lama lagi menatap ke bola mata itu. Bola mata yang sama yang membuatku jantungku terbakar dan aliran darahku mengalir deras ke seluruh tubuh. 

Aku melirik lagi ke arahmu dan kamu tetap menatapku. Kenapa pula kamu masih menatapku dengan bola mata indah terkutukmu itu? Aku membuang pandang lagi ke arah lampu. Lalu ke arah jalanan tempat semestinya Bus kita muncul dari kejauhan. Aku mengeluarkan handphone tapi tak benar-benar tahu apa yang harus kulakukan. 

Aku melihat jam yang tertampil disitu. Semestinya kita sudah pulang. Kamu akan turun lebih dahulu lalu aku menyambung angkot beberapa kilometer lagi dari tempatmu turun. Kamu tak pernah mau kuantar ke rumahmu. Aku tak pernah menanyakan kenapa. Bisa duduk denganmu selama beberapa menit di atas angkot saja sudah membuatku bersyukur.

"Er...mungkin..." ujarmu tiba-tiba memecah kesunyian.

"Eh, apa?" tanyaku.

"Itu tadi jawabanku. Mungkin aku memang harus menanyakan segala sesuatu.."

"Jadi selama tadi kamu diam hanya memikirkan jawaban pertanyaanku?"

Kamu menjawab pertanyaanku dengan angukkan lalu tersenyum manis. Tawaku meledak. Kamu memandang heran lalu kemudian ikut tertawa denganku. Di kejauhan tampak samar-samar lampu angkot yang akan membawa kita pulang masing-masing.

Senin, 04 Maret 2013

Anakmu

Luwak. Anakmu. Semalam kamu terbangun sesaat dan menatap stap kamar. Kamu angkat jemarimu ke depan mata dan kamu pikir jemarimu adalah tiang dan kuku-kukumu adalah benderanya. Dan udara kamar yang menusuk tulang serupa angin.
Kamu mencoba terbangun namun sayang matamu sudah terbuka semenjak tadi. Ironis, karena pada akhirnya kamu  tak tahu: mimpikah kamu atau sedang terbangun?

***


"Dalam sebelah matamu bernaung aku."

Kamu tiba-tiba mengeluarkan kata-kata itu saat sedang duduk berdua menghadap batu. Aku bingung bukan kepalang. Bukan karena cuaca, bukan karena batu, atau bahkan karena kata-katamu. Yang membuatku heran adalah pada akhirnya kamu berbicara.

Tiga jam kita habiskan berkendara. Aku berani bersumpah setengah mati betapa aku benci kesunyian yang kamu tinggalkan. Namun kurasa sunyi yang duduk diantara kita akan lebih manis daripada suara bantingan pita suara yang menghancurkan telinga. Aku tak bisa protes apa-apa. Aku menyetir sambil sesekali bersenandung mengikuti alunan lagu di radio.

Kamu tampak tak terganggu dengan nyanyianku. Aku tak peduli sebenarnya andaikan kamu terganggu sekalipun. Ah tidak, maksudku aku tak peduli dengan apa pun yang kamu lakukan saat ini padaku. Aku muak berkendara berjam-jam denganmu namun apabila itu satu-satunya yang perlu kulakukan terakhir kali untuk berpisah denganmu, hei kenapa tidak?

Aku antarkan kamu ke rumah orang tuamu di Bandung. Mungkin Jakarta terlalu kejam bagimu, namun tidak bagiku. Aku sendiri tak pernah tahu apa perbedaan antara dua kota itu selain cuacanya. Dan kemacetannya tentu saja. Tapi saat kamu terlihat semakin lelah dari hari ke hari dengan wajah pucat setiap kutemui pulang kamu akhirnya menyerah.

Aku diam saja saat itu. Aku mengerti suatu saat akan begini namun tak pernah siap apabila memang pada akhirnya benar-benar terjadi. Aku mencoba menyulam kembali hatimu namun benang-benang itu bukan hanya tentang kota. Kamu benci aku. Aku menggeleng. Lalu lebih tersayat lagi saat kemudian kamu menangis dalam-dalam. Bukankah aku yang semestinya menangis lebih kencang?

Kita berhenti di kilometer 97. Mobil kutepikan lalu mesin kumatikan. Kamu turun lebih dahulu. Angin memainkan pelan rambutmu dan dalam hati aku ingat kenapa aku pernah mencintaimu. Pernah? Mungkin sampai kini pun aku masih mencintaimu. Siapa yang benar-benar tahu tentang perasaan?

Lalu kamu berkata seperti itu: "Dalam sebelah matamu bernaung aku." Aku tak mengerti apa artinya sama sekali. Aku selalu lemah dalam kata dan puisi. Sedang kamu menjadikan kata-kata yang keluar dari mulutmu serupa bait dan sajak. 

Sesaat kita diam. Lambat-lambat terdengar kata selanjutnya dari mulutmu. Pelan namun tajam,

"Aku hamil anakmu."


***
Kamu ingat cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari yang kamu lihat sehari-hari. Kamu ingat merah yang semburat dari bangku sebelah kirimu. Kamu ingat teriakan dan bunyi karet yang terbakar. Kamu ingat semua namun tak yakin apa itu benar-benar terjadi.

Kamu ingat pula tentang luwak yang mengunyah arbei dan memuntahkan biji-biji kopi. Luwak yang sama yang hinggap di kepalamu dan menghisap sumsum dari tulang belakangmu. Masihkah kamu layak mempercayai ingatanmu?

Kamu ingat pula tangisanmu yang pecah siang itu.

Sabtu, 02 Maret 2013

Koper


“Sudah siap barang-barangmu?”, Tanya ibu.
Aku mengangguk ringan. Pandangan mataku kuarahkan ke satu koper hitam yang terletak di samping meja makan dekat tempat kami duduk sekarang. Ayah dan Ibu duduk berdampingan sedang aku duduk seorang diri di seberang mereka.
Ayah diam saja sambil beberapa kali tangannya menyendokkan sekumpulan nasi dan lauk ke mulut. Aku kemudian beranjak ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibu tampak memperhatikan koperku lekat-lekat. Sekembalinya aku duduk ia kemudian menanyaiku lagi.
“Kecil sekali kopermu. Cukup kah?”
Aku tersenyum kemudian menjawab, “Cukup Ibu.”
Rupa-rupanya jawabanku tidak cukup membuatnya puas. Ia kemudian memberendongku dengan pertanyaan-pertanyaan: berapa kemeja yang aku bawa? Apakah aku membawa kaus kaki? Bagaimana dengan celana dalam dan kaus singlet. Semuanya. Setiap aku menjawab, ia akan selalu berkata aku membawa terlalu sedikit. Selanjutnya aku akan meyakinkannya bahwa aku memang tak perlu membawa terlalu banyak.
Ayahku tetap diam saja. Saat piringnya sudah mulai bersih ia memberi isyarat pada ibu untuk mengambilkannya minum di dapur. Ibuku menanyakan apakah ingin sekalian dibuatkan teh manis hangat. Ayahku mengangguk.
“Bawa Al-Qur’an?” Tanya Ayahku tiba-tiba sesaat setelah ibu meninggalkan meja.
Aku mencoba mengingat-ingat sesaat dan kemudian berkata dengan yakin bahwa aku membawanya.  Ayahku tersenyum kemudian berkata  pelan namun tegas,
“Pesanku.” Bukanya. “Baik-baiklah menjaga diri nanti di tempat orang. Jaga Solatmu. Kitab itu jangan hanya kau bawa, sekali-kali kau baca juga.”
Aku mengangguk.
“Lalu,” sambungnya. “ Ingat, kau itu lelaki. Kau akan sendiri dan ini adalah langkah pertamamu. Ada saat dimana kamu merasa bahwa kau tak kuat. Pada saat seperti itu hanya satu pesanku: bertahanlah.”
“Bertahan?” tanyaku bingung.
Ayahku tersenyum.
“Iya bertahan. Sederhana.  Jangan keluar pada setiap saat kau temui halangan. Hadapi. Ambil pelajaran entah baik atau buruk. Yakinlah bahwa selama niatmu tulus, tak ada pekerjaanmu yang akan sia-sia.”
Kudengarkan baik-baik saran dari ayahku itu. Dalam otakku tiba-tiba berkelibat kehidupanku selama ini. Saat itu kemudian aku sadar: seumur hidupku tak pernah ada nasihat ayahku yang membuatku celaka. Justru sebagian besar kesalahanku aku lakukan saat aku tak mendengarkan nasihat Ayahku.
“Iya pa. Insyaallah.” Jawabku.
Ibu kemudian datang membawa teh manis hangat untuk Ayah. Ayahku menerimanya sembari tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Ibuku membalasnya dengan senyum. Tiba-tiba aku merasa sedih.
Kutundukkan wajahku. Aku berpikir bahwa aku takkan bisa lagi sering-sering melihat pemdangan ini. Nanti setelah aku pergi, Ayah dan Ibu hanya akan hidup berdua. Kemudian aku akan menikah dan memiliki anak. Apa aku harus benar-benar pergi?
Aku tak yakin bahwa aku ingin benar-benar pergi. Apakah ikatan keluarga kami terputus hanya seperti ini? Masa bayi, beranjak kanak-kanak kemudian sekolah dan kuliah lalu pada akhirnya lulus dan harus bekerja. Selesaikah hubungan kami setelah aku bekerja?
Sumpah mati aku masih ingin tinggal disini. Memanggil Ayah dan Ibu dan merasakan nyamannya hidup dengan aroma tubuh mereka. Tinggal bersama Ayahku dan merasa yakin bahwa semua akan baik-baik saja. Tak perlu kukhawatirkan tentang malam atau esok hari.
Lalu Ibuku. Ah, Ibuku tercinta. Betapa aku akan merindukan masakan-masakan yang dibuatnya.  Tak pernah kutemui masakan seenak buatannya. Aku tak berbohong saat mengatakan hal itu. Masakan di restoran termahal sekalipun yang pernah kumakan tak mampu mengalahkan kelezatan masakan ibu. Setiap saat kutanya apa rahasianya ia hanya tertawa kecil dan menjawab:
“Karena Ibu pakai Vitamin C. Vitamin Cinta!”
Dan kini aku harus keluar dari rumah? Untuk apa? Setelah itu aku seakan-akan takkan menjadi anak mereka. Aku hanya bertemu mereka sesekali. Saat lebaran atau liburan panjang. Selain itu? Aku sendiri.
Aku menunduk. Kurasakan mataku terasa hangat. Air mataku menetes.

Balikpapan

Pikiran pertama yang hinggap di pikirannya saat pertama kali turun dari pesawat adalah betapa tak ada bedanya antara Jakarta dengan Balikpapan. Namun saat keluar dari naungan atap bandara dan merasakan panasnya matahari baru ia benar-benar sadar bahwa ia sudah tak ada di Jakarta lagi.
Sudah beberapa menit berlalu sejak ia mengambil kopernya. Ia bersyukur tak perlu menunggu lama. Baru lewat tiga koper saat ia melihat koper Ellenya dari kejauhan. Ia melirik jam yang tergantung di atas jadwal kedatangan pesawat. Ia mengerenyitkan alisnya sesaat sebelum akhirnya ingat untuk menyetel jamnya maju satu jam. Ia kini berada di masa depan.
Ia tampik halus tawaran taksi dari orang-orang yang tampak sama terganggunya dengan dirinya terhadap panas. Ia mengeluarkan telepon dan mencoba mengingat-ingat suatu nama. Pembicaraan singkat terjadi di telepon kemudian ia melangkah ringan ke anjungan naik-turun penumpang.
Dirogohnya saku dan dikeluarkan sebatang rokok. Ia mengorek-ngorek saku jaket untuk mencari  korek. Ia tersenyum saat mengingat di Soekarno-Hatta para petugas bagasi mengetahui bahwa ia membawa korek namun membiarkannya saja. Dibakarnya lalu dihisap kuat-kuat rokoknya dan dihembusnya ke udara Balikpapan. Asap pertama dari jutaan asap yang akan dihembuskannya di kota ini.
Dari sebelah kanannya berjalan lambat mobil Innova baru kemudian berhenti tepat di depannya. Jendela penumpang depannya terbuka dan suara supir terdengar lantang saat menanyakan apakah ia Aldo. Ia mengangguk. Dimatikannya rokok yang sebenarnya baru dihisap sesaat itu. Dimasukkannya barang ke bagasi lantas duduk di bangku depan.
Ia mengantuk. Sungguh mengantuk

Komemorasi

Aldo, anda membuat blog lagi?

Ya, saya rasa begitu. Namun jika pertanyaannya adalah untuk apa, saya benar-benar tak bisa menjawabnya. Mungkin saya hanya ingin menulis saja. Mungkin blog ini adalah lembaran kertas kosong lain yang siap ditulis. Siapa tahu?