Jumat, 28 Februari 2014

Revolver

"Kapan kamu terakhir pulang, Malik?"

"Anjing kau Fran!"

Kemudian tawa pecah. Di luar mungkin masih pukul sembilan malam tapi suasana ruang tamu itu seperti pukul dua pagi. Lain waktu mungkin Malik bisa saja bersumpah ia samar-samar mendengar kokok ayam.

"Kita tak harus disini." Malik berkata pelan, tajam. Seperti biasa. Fran membalas dengan angguk. Ia sempat membuka mulut untuk mengatakan sesuatu sebelum diurungkan niatnya. Jam dinding berdetak pelan. Sunyi hadir beberapa lama untuk mereka.

"Kamu tahu, pertanyaan kapan terakhir pulang bukan pertanyaan yang kubayangkan muncul pertama kali dari mulutmu."

Fran kemudian menggeleng tertawa sendiri. Kawannya ini selalu tahu bagaimana membuka pembicaraan. Tapi entah kenapa ia sedang tak ingin bicara. Dan bukankah ini rumahnya?

Ia bermaksud menghidangkan wiski sebelum ingat bahwa temannya tak minum minuman keras. Diusapnya wajahnya pelan. Baru beberapa menit sejak ia membuka gerbang rumahnya untuk Malik tapi waktu terasa teramat cepat malam ini.

Tiba-tiba terdengar suara gelas pecah. Fran dan Malik mendadak berdiri. Wajah Fran berubah pucat pasi, Malik hanya diam. Telapak tangannya berkeringat saat ia mengeluarkan reuolver kecil dari balik jaketnya.


"Maaf kawan..." ujarnya pelan. "Sungguh, maaf..."

Sembilan bulan bukan waktu yang singkat untuk membiarkan sesosok makhluk asing hinggap di rahim seseorang, menghisap darah dan kemudian dibesarkan baik-baik. Belum lagi kalau kamu harus menghitung biaya untuk bajunya, susunya, makanannya, semuanya. 

Nanti ia akan besar. Kamu harus mencarikannya sekolah yang baik, memberinya bekal dan merapikan bajunya baik-baik saat ia berangkat ke sekolah. Kamu bisa diam-diam menyaksikannya dari jauh memimpin baris berbaris dan menangis bangga. Lucu, kamu akan ingat dulu kamu pernah melakukan hal yang sama namun tak sebahagia melihat anakmu melakukannya.

Waktu kadang terlalu cepat sampai kadang kamu merasa bahwa sebenarnya ia tak ada. Anakmu tumbuh besar, ia lulus sekolah dan kuliah. Masih tajam diingatanmu tentang betapa bahagianya kamu melihat anakmu membelikanmu kemeja baru dengan gaji pertamanya. 

Dan semua itu berlangsung cepat. Kadang tak masuk akal membandingkan tentang sulitnya membesarkan seorang manusia dengan menghilangkan nyawanya. Terjatuh dari tangga, kecelakaan, penyakit, sudah. Begitu saja.

Seperti saat ini. Sepersekian detik setelah peluru meluncur, Malik menyesal. Ia tak sadar saat ia tarik pelatuk, air matanya menetes sedikit. Fran hanya membelalak tak percaya. Seluruh waktu mendadak berhenti namun ia tak bisa apa-apa. Dan tepat saat peluru ada diantara dahi dan tengkorak belakangnya, ia tak merasakan apa-apa lagi.

Malik diam. Darah mengalir cepat menyentuh kakinya. Ia menangis, sungguh ia menangis. Ia tak percaya ia sudah membunuh seseorang. Secepat itu. Semudah itu.

Malik kemudian muntah

Kamis, 06 Februari 2014

Desember {Part 1}

Belakangan ini diam-diam aku berpikir apa yang akan terjadi jika aku terlahir sebagai Desember. Tapi kalau kupikir-pikir lagi untuk apa aku berpikir seperti itu?

Setengah jam sebelum makan siang tiba-tiba telepon genggamku berdering. Andai bukan istriku yang menelepon, sudah kupastikan tidak akan aku acuhkan sama sekali telepon itu. Mana ada orang yang ingin diganggu saat hampir waktu makan siang.

"Halo?", sapaku singkat.

Diseberang terdengar suara istriku. Tidak riang, tidak menggoda, tidak seperti biasanya. Samar-samar kudengar suaranya membersihkan lendir dari hidung. Aku tak yakin apakah saat tadi pagi kutinggalkan ia sedang pilek.

"Danar," ia menyapaku pelan. Aku bisa dengar suaranya terbata-bata menahan tangis. Ah, jadi ia menangis rupanya.

"Ibu meninggal." ujarnya singkat.

Aku terdiam. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku bisa melihat meja kerjaku penuh dengan tumpukan kertas dan dokumen kerja. Aku sudah berencana makan di sebuah restoran siang ini dengan beberapa teman dan mendadak selera makanku hilang.

"Ibu siapa?"

"Ibumu, Sayang."

Tanpa sadar aku mengarahkan tangan kiriku menutup mulut. Wajahku terasa panas dan memerah. Berani taruhan, apabila aku bercermin aku akan tampak seperti udang rebus. Aku ingin menangis tapi tak bisa.

Kutimbang-timbang pekerjaanku hari ini. Hampir semua sudah selesai, namun jam 2 nanti aku ada rapat. Rapat bodoh sebenarnya, Bos baruku hanya ingin tahu perkembangan proyek baru yang sedang aku handle. Kenapa aku bilang bodoh? Karena proyek ini baru dimulai hari ini. Mana ada orang tolol yang membuat rapat perkembangan proyek yang baru dimulai hari yang sama? 

"Baik, aku akan pulang."

Beberapa menit kemudian berlangsung dengan cepat. Aku tak ingat dengan pasti, yang jelas tahu-tahu aku sudah menyetir di dalam mobil 15 menit kemudian. Samar-samar aku ingat tatapan iba bosku setelah meminta izin pulang, wajah teman-teman kerjaku, dan ekspresi heran satpam di parkiran. Aku tak peduli. Aku hanya ingin pulang.

***

Sampai di rumah istriku memelukku. Ia menangis sesengukkan. Aku mencoba menenangkannya. Lucu sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, bukankah Ibuku yang meninggal tapi kenapa pula ia yang menangis? Lantas kenapa pula aku yang menghiburnya? Dan pertanyaan yang lebih penting: kenapa pula aku tak menangis?

Aku bahkan tak menangis sepanjang perjalanan pulang. Kalau kuingat-ingat lagi, aku tak ingat sama sekali aku menyetir mobil selama pulang. Mungkin salah satu dari kalian pernah menyetir setengah sadar dalam keadaan mengantuk dan tiba-tiba kalian sudah sampai tempat tujuan kalian ? Perasaanku saat itu kurang lebih sama. 

Di perjalanan aku mencoba memikirkan dan mencerna semuanya. Ibuku meninggal? Benarkah? Tapi mana mungkin istriku berbohong? Atau apa mungkin istriku berbohong? Tanggal berapa sekarang? 1 April kah? Tapi walaupun memang sekarang 1 April, aku rasa berbohong tentang ibuku meninggal sudah sangat keterlaluan sebagai lelucuon. Jadi Ibuku benar-benar meninggal? Bagaimana ibuku meninggal?

Aku memeluk istriku sembari berjalan dan mengarahkannya ke meja makan. Setelah kupastikan ia duduk dengan tenang, aku berjalan ke dapur aku memikirkan mana yang lebih baik untuknya: teh atau air putih? Sejujurnya aku malas harus memanaskan air, menyeduh teh dan mengambil cangkir. Jadi, air putih? Tentu saja air putih.

Istriku mengambil beberapa nafas. Sedetik kemudian ia mulai bercerita. Panjang. Aku tak terlalu menyimak. Aku tahu ini terdengar aneh, tapi di kepalaku terlalu banyak pertanyaaan yang membutuhkan jawaban dan cerita istriku hanya menjawab beberapa pertanyaan itu.

Aku tak perlu tahu sedang akan memasak apa ia saat ayahku menelepon. Terlebih lagi aku tak perlu diingatkan tentang sudah hampir setahun aku dan ayahku tak saling bertegur sapa jadi ia cukup heran saat ayahku meneleponnya. Lalu apa perlu aku tahu kalau ia sempat kebingungan meneleponku karena pulsanya habis?

"Ibu meninggal karena apa?" desakku sedikit bosan dengan basa-basi ceritanya.

"Entahlah." jawabnya. "Aku lupa menanyakan..."

Ah tentu saja, gumamku dalam hati. Pada akhirnya hampir tak ada jawaban bagi pertanyaan-pertanyaanku.

"Ayo berkemas, kita akan pergi ke Surabaya."

***