"Kapan kamu terakhir pulang, Malik?"
"Anjing kau Fran!"
Kemudian tawa pecah. Di luar mungkin masih pukul sembilan malam tapi suasana ruang tamu itu seperti pukul dua pagi. Lain waktu mungkin Malik bisa saja bersumpah ia samar-samar mendengar kokok ayam.
"Kita tak harus disini." Malik berkata pelan, tajam. Seperti biasa. Fran membalas dengan angguk. Ia sempat membuka mulut untuk mengatakan sesuatu sebelum diurungkan niatnya. Jam dinding berdetak pelan. Sunyi hadir beberapa lama untuk mereka.
"Kamu tahu, pertanyaan kapan terakhir pulang bukan pertanyaan yang kubayangkan muncul pertama kali dari mulutmu."
Fran kemudian menggeleng tertawa sendiri. Kawannya ini selalu tahu bagaimana membuka pembicaraan. Tapi entah kenapa ia sedang tak ingin bicara. Dan bukankah ini rumahnya?
Ia bermaksud menghidangkan wiski sebelum ingat bahwa temannya tak minum minuman keras. Diusapnya wajahnya pelan. Baru beberapa menit sejak ia membuka gerbang rumahnya untuk Malik tapi waktu terasa teramat cepat malam ini.
Tiba-tiba terdengar suara gelas pecah. Fran dan Malik mendadak berdiri. Wajah Fran berubah pucat pasi, Malik hanya diam. Telapak tangannya berkeringat saat ia mengeluarkan reuolver kecil dari balik jaketnya.
"Maaf kawan..." ujarnya pelan. "Sungguh, maaf..."
Sembilan bulan bukan waktu yang singkat untuk membiarkan sesosok makhluk asing hinggap di rahim seseorang, menghisap darah dan kemudian dibesarkan baik-baik. Belum lagi kalau kamu harus menghitung biaya untuk bajunya, susunya, makanannya, semuanya.
Nanti ia akan besar. Kamu harus mencarikannya sekolah yang baik, memberinya bekal dan merapikan bajunya baik-baik saat ia berangkat ke sekolah. Kamu bisa diam-diam menyaksikannya dari jauh memimpin baris berbaris dan menangis bangga. Lucu, kamu akan ingat dulu kamu pernah melakukan hal yang sama namun tak sebahagia melihat anakmu melakukannya.
Waktu kadang terlalu cepat sampai kadang kamu merasa bahwa sebenarnya ia tak ada. Anakmu tumbuh besar, ia lulus sekolah dan kuliah. Masih tajam diingatanmu tentang betapa bahagianya kamu melihat anakmu membelikanmu kemeja baru dengan gaji pertamanya.
Dan semua itu berlangsung cepat. Kadang tak masuk akal membandingkan tentang sulitnya membesarkan seorang manusia dengan menghilangkan nyawanya. Terjatuh dari tangga, kecelakaan, penyakit, sudah. Begitu saja.
Seperti saat ini. Sepersekian detik setelah peluru meluncur, Malik menyesal. Ia tak sadar saat ia tarik pelatuk, air matanya menetes sedikit. Fran hanya membelalak tak percaya. Seluruh waktu mendadak berhenti namun ia tak bisa apa-apa. Dan tepat saat peluru ada diantara dahi dan tengkorak belakangnya, ia tak merasakan apa-apa lagi.
Malik diam. Darah mengalir cepat menyentuh kakinya. Ia menangis, sungguh ia menangis. Ia tak percaya ia sudah membunuh seseorang. Secepat itu. Semudah itu.
Malik kemudian muntah