Kalau mau diingat-ingat betul sebenarnya aku tak pernah sadar kapan surat itu datang. Jadi ketika suatu pagi aku menemukannya diatas meja kopi dekat beranda, mau tak mau aku jadi penasaran juga.
Surat itu sederhana saja. Amplop putih dengan perangko bergambar piramida mesir bertuliskan 5 pound. Dibagian depan tertulis huruf arab gundul yang dapat dibaca: Alduu, namaku dengan alamat rumahku dalam tulisan latin. Yang membuatku penasaran adalah nama pengirim dan dari mana surat itu dikirim. Tulisan arab gundul membuatku kesulitan juga. Perlahan-lahan kucoba baca tapi aku tak tahu juga siapa. Hanya alamat yang aku bisa baca perlahan: Qatameya, Kairo.
Saat kubuka surat aku sungguh berharap bahwa ia menggunakan bahasa Inggris atau Indonesia. Amplop itu berisi kertas yang dilipat dua dengan hanya berisi beberapa baris. Tapi payah juga, lagi-lagi tulisan arab gundul. Aku menggeleng pelan dan tertawa. Siapa pula yang mengirim surat jauh-jauh dari Mesir untukku.
Besok pagi aku tanya temanku yang fasih berbahasa Arab. Ia bilang surat itu datang dari seorang bernama Amirra dari Qatameyya. Isi surat itu hanya sederhana saja:
Rumah kami memang tak besar, namun tuan akan merasa nyaman di sini. Silakan berkunjung kapan saja kemari.
Temanku duga dari tulisannya Amirra ini adalah seroang wanita tua. Aku ucapkan terima kasih padanya. Ia kemudian menanyakan apakah aku akan pergi ke Kairo dalam waktu dekat? Aku menggeleng dan mengatakan tidak tahu.
Lalu kesibukkan pekerjaan menghantamku dan membuatku lupa pada surat itu. Sampai suatu ketika beberapa bulan kemudian bosku menyuruhku untuk pergi training lagi ke Mesir. Kemudian aku ingat kembali pada surat itu.
Di pesawat aku sebenarnya tak begitu memperdulikan tentang surat itu. Aku hanya penasaran tentang siapa dia dan kenapa ia mengundangku jauh-jauh. 12 jam lebih aku di pesawat dan transit beberapa kali di Chang-i dan Abu Dhabi. Sampai saatnya aku melihat Mesir dari udara, aku ingat betapa penuhnya tempat ini dengan padang pasir.
Sebelumnya aku pernah kesini beberapa kali. Kebetulan perusahaanku bekerja adalah sebuah perusahaan Mesir. Jadi training-training dan beberapa kegiatan penting sering kali diadakan disini. Terakhir aku kesini adalah dua tahun lalu. Aku ingat aku tinggal hampir 3 bulan disini untuk training. Dikatakan training pun sebenarnya tidak tepat, aku lebih sering berjalan-jalan dan berwisata dariapada belajar.
Selama disana aku diberikan apartemen cukup bagus di kawasan Garden City, Kairo. Awalnya aku naik mobil perusahaan. Tapi ampun, pengendara mobil disini gila-gila. Semua mobil pasti punya bekas penyok sebagus apapun mobilnya. Aku hanya tahan mengendarai mobil selama 3 hari kemudian aku meminta supir atau naik kendaraan umum dan taksi.
Akhirnya aku turun di bandara. Seseorang dari perusahaan menjemputku dan mengantarkanku ke apartemen yang sama yang sempat kutempati dulu. Aku tertidur lelap hari pertama aku sampai di Mesir mencoba mengusir lelah dan Jet-Lag.
Beberapa minggu aku sibuk dengan training yang diberikan oleh perusahaanku. Lalu akhirnya ada waktu santai. Aku sekarang mencoba mengunjungi alamat dalam surat yang kuterima tempo hari. Aku berikan secarik kerta berisi alamat itu pada supir kantor kemudian aku dibawanya berjalan cukup jauh.
Lalu aku sampai disuatu rumah. Aku tanya apakah benar ini alamat yang tertulis. Ia mengagguk mantap dan mengatakan bahwa ia yakin disinilah rumahnya. Aku tersenyum lantas berujar bahwa agar aku ditinggal saja biar aku pulang naik taksi nanti. Ia mengangguk kemudian izin pergi.
Aku bunyikan bel namun tak ada orang yang keluar. Kucoba perhatikan perlahan rumah itu: coklat, hanya dan satu lantai. Di halaman depannya taman kecil tapi penuh dengan pot-pot tanaman. Aku tunggu beberapa menit sampai kuputuskan untuk memencet bel sekali lagi.
Kemudian keluar seorang wanita tua dengan nampak bingung. Ia bertanya dalam bahasa Arab siapa aku.
"Ana, Alduu." Aku Aldo ujarku dalam bahasa Arab.
Kemudian aku tunjukkan surat itu yang kemudian membuat senyum merekah di mulutya. Ia menyuruhku masuk dan duduk di beranda. Kemudian ia ke dalam rumah dan mengambil segelas air.
"Syukron." Terima kasih.
Mendadak ia berbicara dalam bahasa Arab panjang lebar. Ah, mana bisa aku bahasa Arab. Aku hanya mengerti sedikit-sedikit kosakata umum selain itu aku tak mengerti apa-apa.
"Lā atakallam `arabi." Aku tak lancar berbahasa Arab. Ia memandangku tak percaya kemudian meneriakkan sebuah nama.
"Ahmad! Ahmad!" panggilnya.
Yang dipanggil kemudian muncul. Pemuda, kukira masih berusia 15 tahun. Ahmad ternyata cukup fasih berbahasa Inggris. Ia menerjemahkan apa yang dibicarakan oleh wanita tua itu kepadaku.
Nama wanita ini Amirra. Ia punya dua orang anak, salah satunya Ahmad. Suaminya sudah meninggal cukup lama. Ia berkali-kali takut bahwa surat yang ia kirim tak pernah sampai padaku. Aku kemudian menanyakan lewat Ahmad darimana Amirra mendapat alamatku. Wanita itu kemudian tersenyum kemudian berkata pelan,
"Maria."
Aku terkejut. Ah tentu saja Maria! Bagaimana aku bisa lupa dengan gadis itu. Aku berkenalan dengannya saat aku disini training dahulu. Aku beberapa kali berpapasan dengannya ketika naik kendaraan umum sampai akhirnya aku beranikan diri untuk berkenalan dengannya.
Aku ingat senyum manisnya, apa lagi yang bisa kuingat. Aku tak peduli pada pandangan-pandangan orang di bis terhadapku saat itu. Gadis itu seperti bersinar dan aku tak bisa mengalihkan mataku darinya. Kita kemudian menjadi akrab. Saat aku menanyakan dimana aku bisa membeli oleh-oleh ia mengantarku ke Khan el-Khalili dan membantuku membeli dengan harga pantas.
Aku ingat tentang malam yang kita habiskan berdua. Ia selalu bilang bahwa ia tak suka Mesir karena cuacanya. Aku tertawa kemudian berkata bahwa ia mungkin juga tak akan suka Indonesia karena sama panasnya. Ia menggeleng. Sambil tersenyum ia berkata,
"Aku akan suka Indonesia. Kalau bersamamu aku suka."
Dikatakan seperti itu mau tak mau aku jadi salah tingkah juga. Ya Tuhan, siapa pula yang tak mau seumur hidup tinggal bersama gadis secantik ini? Aku mengalihkan pembicaraan mengenai pekerjaan. Ia bilang ia mengajar di sebuah sekolah berbahasa Inggris. Tidak heran bahasa Inggrisnya sebaik ini.
Saat berjalan bersama dia aku merasa bahwa aku yang selama ini di Indonesia tak pernah ada. Aku yang ada hanyalah aku yang berjalan bersamanya. Aku tak tahu apakah ini cinta yang pasti aku selalu merasa seperti bermimpi saat berjalan bersamanya.
Sampai akhirnya aku harus pulang. Aku janjikan ia aku akan tetap menghubunginya. Ia hanya mengangguk. Aku berikan alamat rumah dan nomor telepon rumahku. Aku bilang ia boleh menghubungiku kapan saja. Ia hanya mengangguk. Aku peluk erat ia. Ia kemudian menangis.
Untuk sesaat aku teringat segala sesuatu tentang Maria. Aku kemudian menyesal kenapa tak pernah menghubunginya. Kuterka-terka apa yang membuatku lupa. Mungkin karena pekerjaan, mungkin karena waktu, atau mungkin karena bosan. Yang pasti saat ini aku menyesal setengah mati tak pernah menghubunginya selama ini.
Aku kemudian bertanya, dimana Maria sekarang. Ibu dan anak itu kemudian saling melihat. Dengan senyum yang dibuat-buat, Amirra menjawab
"Maria sudah meninggal."
Aku tercekat. Tidak mungkin. Maria yang selalu ada diingatanku adalah Maria yang selalu ceria dan penuh hidup. Ketika lantas dikatan ia sudah meninggal, sekujur tubuhku terasa lemas. Aku berharap ia sedang bercanda lalu aku sadari tidak mungkin ia bercanda tentang hal semacam ini. Berikutnya aku berharap aku sedang bermimpi.
"Kapan? Karena apa?" tanyaku.
Amirra bilang, Maria anaknya sudah sakit sejak lama. Dokter awalnya mengira ia hanya radang tenggorokan biasa namun ternyata ia mengidap kanker tenggorokan. Ia jatuh sakit tak lama setelah aku pergi. Ketika akhirnya ia tak mampu lagi melawan penyakitnya, akhirnya ia meninggal sekitar satu tahun lalu. Amirra menemukan alamat rumahku dari sebuah laci di kamar Maria.
Ia melanjutkan bahwa sebenarnya ia ingin langsung bilang disurat itu bahwa Maria sudah meninggal. Tapi ia merasa tindakan itu kurang pantas makanya ia menulis surat semacam itu. Ia kirimkan surat itu tepat sebulan setelah Maria meninggal. Namun pada akhirnya aku baru mendapatkannya beberapa minggu lalu.
Saat aku dengar semua cerita itu aku merasa semua ini tidak nyata. Aku yang datang jauh-jauh dari Indonesia tak pernah menyangka akan mendapat cerita semacam ini. Seorang gadis yang dulu aku kagumi ternyata sudah meninggal. Aku kemudian menanyakan kenapa tidak memberi tahuku sewaktu ia sakit.
Ia bilang bahwa Maria tak ingin membuatku repot. Amirra bercerita tentang Maria yang selalu menceritakan cerita tentangku dengan bahagia. Amirra bilang Maria diam-diam berharap bahwa kalian berdua akan menikah dan tinggal di Indonesia. Tapi ketika tahu sakit yang ia derita, ia perlahan-lahan mengurungkan idenya.
Diam-diam Maria selalu mengharapkan akan hadir surat atau telepon dariku namun tak kunjung datang pula. Maria kemudian sadar mungkin aku sudah melupakannya. Maria berkata pada ibunya bahwa mungkin ini memang yang terbaik. Jadi ia minta pada ibunya untuk tidak memberitahuku bahwa ia sedang sakit. Dan nanti jika ia meninggal, ia minta pula ibunya untuk berjanji untuk tidak memberitahuku. Ia tidak ingin aku merasa sedih.
Namun saat akhirnya anak tertuanya meninggal juga, Amirra tak sanggup menahan diri lagi. Ia merasa bahwa ia harus memberitahuku. Jadi dengan melanggar janjinya kepada anaknya yang sudah meninggal, ia kirimkan surat itu padaku.
Aku diam mendengar semua itu. Aku kemudian merasa tercabik-cabik. Aku menyesal, sungguh menyesal. Aku tak pernah menyangka bahwa aku sedemikian berarti baginya. Aku selalu berfikir bahwa gadis secantik ia tentu tidak akan kesulitan mencari lelaki yang puluhan kali lebih baik bagiku. Tapi pada akhirnya ia tetap memilihku.
Aku merasa bodoh dan tak berdaya sekaligus. Mungkin dalam hidup ini ada beberapa orang yang merasa diri kita jauh lebih penting daripada diri mereka sendiri. Dan mungkin itu yang dirasakan Maria kepadaku. Dan saat aku melupakannya ia bukannya marah, ia malah merasa bersyukur aku tak perlu tahu tentang sakit yang dideritanya.
Perlahan air mataku turun. Bukan hanya sedih yang kurasakan: marah, menyesal, tak berdaya, bodoh, semua bercampur menjadi satu. Aku berharap dapat mengulang waktu lalu kembali duduk di suatu malam dimana ia mengatakan ingin tinggal bersamaku. Lalu aku lamar dia. Dan nanti jika memang pada akhirnya ia meninggal bukankah ia bisa meninggal dalam pelukanku?
Amirra menawarkanku untuk menginap. Aku tampik halus dengan alasan bahwa aku sudah ada apartemen sendiri. Ia kemudian menanyakan lagi apakah aku ingin berkunjung ke makamnya? Aku tampik lagi dan berkata bahwa Maria yang aku kenal adalah Maria yang selalu hidup. Biarkan aku kenang selamanya seperti itu. Amirra mengerti.
Kemudian aku pamit untuk pulang. Amirra dan Ahmad mengangguk. Aku bilang terima kasih dan maaf aku tak bisa berbuat apa-apa. Amirra mendadak memelukku kemudian berkata bahwa ia yang seharusnya meminta maaf karena tidak memberi tahuku dari dulu. Aku memeluknya balik. Aku ingat rasanya seperti saat aku memeluk ibuku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar