Minggu, 17 Maret 2013

Di Kotamu

Ia tak pernah hadir di kotamu. Namun membayangkannya? Sudah jutaan menit ia habiskan untuk itu. Ia rasakan ia berjalan-jalan di aspal kotamu. Gedung-gedung yang terlihat di kejauhan dan air mancur yang membelah sungai, semuanya. Dan juga cerita-ceritamu yang tak pernah habis-habis mengenai kotamu.

Maka tidak aneh jika pada malam ini ia membayangkan apa yang terjadi apabila ia tinggal di kotamu. Jika ia benar-benar berada di kotamu, maka ia  tak perlu terbaring di atas sofa dan membayangkan sedang ia jika tinggal di kotamu. Ia mungkin akan menelponmu dan mengajakmu makan di luar sepulang kamu kerja nanti.

Lalu nanti ia akan datang diam-diam ke kantormu dan bersembunyi di balik meja resepsionis. Satpam dan resepsionis hanya tersenyum menyaksikannya asyik sendiri menyisir rambut dan menata karangan bunga yang ia bawa agar tampak semakin cantik.

Dan saat satpam menyapa namamu sembari mengucapkan selamat sore, ia akan muncul dari balik meja sembari tersenyum menikmati wajah terkejutmu. Sesaat saja kamu tunjukkan wajah terkejutmu karena beberapa detik kemudian kamu akan menyunggingkan senyum yang luar biasa manis.

Setelah kamu nikmati aroma bunga dan kejutan kecil kehadirannya itu, kalian akan berjalan pelan menuju pelataran parkir sepeda motor. Kamu akan menunggu di depan pos depan sembari merapikan make up mu. Sedang ia akan menunggu sabar dari kejauhan karena tahu kamu ingin tampak cantik di depannya. Sebuah tindakan yang sia-sia sebenarnya karena menurutnya kamu sudah terlalu cantik tanpa make up sekalipun.

Selanjutnya kalian akan menaikki vespa kuno yang baru dibeli beberapa bulan lalu. Masih ingat saat terjadi pertengkaran kecil karena kamu tak habis pikir apa gunanya membeli sepeda motor rongsokkan itu. Tapi kemudian kamu seperti anak kecil, tetap keras kepala dan ngotot membelinya. Kemudian ia menyerah, bukan karena rengekanmu, bukan karena kekeras kepalaanmu, tapi semata-mata karena ia tahu betapa berarti motor itu bagimu. Dan bukankah dirimu adalah hal yang paling penting baginya?

Kalian akan berkeliling-keliling di kotamu. Kamu memberikan ide-ide makan dimana sedangkan ia sibuk memilah-milah dan memilih. Ia tak pernah tahu dimana harus makan sedangkan kamu selalu tahu harus makan dimana. Dan bukankah kalian memang cocok satu sama lain?

Vespa kemudian berhenti di depan sebuah kedai kopi yang sudah lama ingin kalian coba. Kalian masuk dan disapa dengan ramah oleh penjaganya. Sepasang suami istri tua dari Itali yang mencoba peruntungannya membuka kedai kopi di kotamu. Kamu tak memesan kopi karena kamu tak pernah kuat dengan kopi. Sedang ia memsan kopi karena ia tak bisa makan tanpa meminum kopi. Dan bukankah kalian memang cocok satu sama lain?

Kamu memesan secangkir teh dengan mint sedangkan ia memesan Macchiato. Matamu kemudian bergulir lucu saat memutuskan makan apa dan itu membuatnya tertawa. Setelah diputuskan bahwa kamu memesan Spaghetti dan ia Lasagna, si Istri Itali yang ramah itu membawa pesanan untuk kemudian dimasak oleh suaminya.

Kamu bercerita betapa kamu ingin seperti suami istri itu: tinggal berdua, mengurus suatu kafe bersama. Ia tersenyum sambil menambahkan bahwa kalian semestinya membuka toko coklat sementara ia akan membuka perpustakaan kecil dibelakangnya. Sebuah ide yang disambut dengan mata berbinar gembira olehmu. 

Pembicaraan kalian terhenti saat pesanan kalian datang. Kamu memuji masakan kedai itu dan memasksa kalian untuk membuat janji untuk ke sini lagi lain kali. Lalu kalian pulang. Kemudian si pemilik kedai itu memberikan bungkusan kecil berisi kue kacang untuk kalian.

Saat kalian bertanya untuk apa, mereka hanya menjawab: "For the cutest couple ever."

Kalian tersenyum tersipu. Dan bukankah kalian memang cocok satu sama lain?

Lalu dikendarainya Vespa itu pulang. Sepanjang jalan kamu bercerita tak habis-habis dan ia mendengarkannya dengan sabar dan senang. Lalu nanti saat pulang, kalian akan tertidur di sofa setelah terlalu capai menonton televisi dengan tangannya mendekap erat pundakmu seakan tak ingin melepasmu.

Sesaat kemudian ia terbangun dan tersadar bahwa ia tadi tertidur di sofa. Ia diam kemudian menangis pelan. Sembari berpikir pelan,

"Kenapa pula aku tak ada di kotamu?"

Sabtu, 16 Maret 2013

Rama-rama

Ia berjalan perlahan di lorong panjang. Tak ingat sama sekali ia kapan ia mulai berjalan tapi tahu-tahu telapak kakinya berdarah. Ia berhenti sebentar, kemudian mengumpat lalu berjalan lagi. Beberapa langkah kemudian dihadapannya tampak sosok hitam, tersenyum menyeringai:

"Makan apa kamu sarapan tadi?"

Ia menatap tak mengerti. Di pergelangan tangannya kemudian muncul rama-rama yang lalu terbang diantara ia dan sosok hitam itu. Mendadak dari sosok hitam itu keluar lidah panjang mencaplok rama-rama itu. Sosok itu tersenyum semakin lebar.

"Aku baru saja memakan rama-rama," ujar sosok hitam itu.

Sosok itu kemudian tertawa kencang lalu menghilang ditelan bayangannya sendiri. Ia mengusap-usap wajahnya tak percaya. Jempolnya menyentuh dagu sementara jemari lainnya menyentuh ubun-ubunnya. Ia rasakan udara semakin berat. Api menyala di kejauhan. Ia berjalan pelan mendekat ke api.

Sesampai di api perlahan muncul sayap dari punggungnya. Dan rambutnya berubah menjadi sungut. Tangannya berubah tipis. Ia menjelma rama-rama.

Perlahan ia lepas landas dari pergelangan tangannya sendiri yang disangkanya api. Dan saat terbang ia merasa bebas luar biasa. Ia tahu ia kecil tapi ia merasa ia bisa berada di manapun. Bahkan sekarang ia berada dimanapun.

Lalu yang terakhir dilihatnya lidah merah panjang yang mencaploknya. Berikutnya ia sudah tak ingat lagi saat gigi-gigi taring putih yang mengoyak tubuhnya tersusun rapih dan menyeringai pelan lalu keluar kata,

"Aku baru saja memakan rama-rama."

Senin, 11 Maret 2013

Kamu pernah kehilangan bola matamu

"Kamu pernah kehilangan bola matamu?"

Aku menggeleng. Kemudian berkata pelan, "Aku tak tahu. Aku tak pernah mengeceknya..."

Lalu kita diam. Di depan kita jalanan tampak semakin sepi. Hanya lampu jalan yang mendesis ringan dari kejauhan tempat kita duduk di halte. Kamu tampak sibuk memperhatikan bayangan dan aku sibuk memperhatikanmu. Aku genggam ringan tanganku sendiri.

"Mengapa kamu memegang tanganmu sendiri?" tanyamu lagi.

Aku hanya diam sembari mengangkat bahu pelan menyiratkan tak tahu. Aku mungkin saja tak tahu. Setelah kupikir lagi aku memang tak tahu mengapa harus mengenggam ringan tanganku sendiri. 

"Haruskah kamu menanyakan tentang segala sesuatu?" balasku.

Kamu menatap mataku. Dan demi Tuhan aku bersumpah itu adalah bola mata yang pernah aku lihat selama ini. Aku mengalihkan perhatian ke arah jalanan. Aku tak mampu lebih lama lagi menatap ke bola mata itu. Bola mata yang sama yang membuatku jantungku terbakar dan aliran darahku mengalir deras ke seluruh tubuh. 

Aku melirik lagi ke arahmu dan kamu tetap menatapku. Kenapa pula kamu masih menatapku dengan bola mata indah terkutukmu itu? Aku membuang pandang lagi ke arah lampu. Lalu ke arah jalanan tempat semestinya Bus kita muncul dari kejauhan. Aku mengeluarkan handphone tapi tak benar-benar tahu apa yang harus kulakukan. 

Aku melihat jam yang tertampil disitu. Semestinya kita sudah pulang. Kamu akan turun lebih dahulu lalu aku menyambung angkot beberapa kilometer lagi dari tempatmu turun. Kamu tak pernah mau kuantar ke rumahmu. Aku tak pernah menanyakan kenapa. Bisa duduk denganmu selama beberapa menit di atas angkot saja sudah membuatku bersyukur.

"Er...mungkin..." ujarmu tiba-tiba memecah kesunyian.

"Eh, apa?" tanyaku.

"Itu tadi jawabanku. Mungkin aku memang harus menanyakan segala sesuatu.."

"Jadi selama tadi kamu diam hanya memikirkan jawaban pertanyaanku?"

Kamu menjawab pertanyaanku dengan angukkan lalu tersenyum manis. Tawaku meledak. Kamu memandang heran lalu kemudian ikut tertawa denganku. Di kejauhan tampak samar-samar lampu angkot yang akan membawa kita pulang masing-masing.

Senin, 04 Maret 2013

Anakmu

Luwak. Anakmu. Semalam kamu terbangun sesaat dan menatap stap kamar. Kamu angkat jemarimu ke depan mata dan kamu pikir jemarimu adalah tiang dan kuku-kukumu adalah benderanya. Dan udara kamar yang menusuk tulang serupa angin.
Kamu mencoba terbangun namun sayang matamu sudah terbuka semenjak tadi. Ironis, karena pada akhirnya kamu  tak tahu: mimpikah kamu atau sedang terbangun?

***


"Dalam sebelah matamu bernaung aku."

Kamu tiba-tiba mengeluarkan kata-kata itu saat sedang duduk berdua menghadap batu. Aku bingung bukan kepalang. Bukan karena cuaca, bukan karena batu, atau bahkan karena kata-katamu. Yang membuatku heran adalah pada akhirnya kamu berbicara.

Tiga jam kita habiskan berkendara. Aku berani bersumpah setengah mati betapa aku benci kesunyian yang kamu tinggalkan. Namun kurasa sunyi yang duduk diantara kita akan lebih manis daripada suara bantingan pita suara yang menghancurkan telinga. Aku tak bisa protes apa-apa. Aku menyetir sambil sesekali bersenandung mengikuti alunan lagu di radio.

Kamu tampak tak terganggu dengan nyanyianku. Aku tak peduli sebenarnya andaikan kamu terganggu sekalipun. Ah tidak, maksudku aku tak peduli dengan apa pun yang kamu lakukan saat ini padaku. Aku muak berkendara berjam-jam denganmu namun apabila itu satu-satunya yang perlu kulakukan terakhir kali untuk berpisah denganmu, hei kenapa tidak?

Aku antarkan kamu ke rumah orang tuamu di Bandung. Mungkin Jakarta terlalu kejam bagimu, namun tidak bagiku. Aku sendiri tak pernah tahu apa perbedaan antara dua kota itu selain cuacanya. Dan kemacetannya tentu saja. Tapi saat kamu terlihat semakin lelah dari hari ke hari dengan wajah pucat setiap kutemui pulang kamu akhirnya menyerah.

Aku diam saja saat itu. Aku mengerti suatu saat akan begini namun tak pernah siap apabila memang pada akhirnya benar-benar terjadi. Aku mencoba menyulam kembali hatimu namun benang-benang itu bukan hanya tentang kota. Kamu benci aku. Aku menggeleng. Lalu lebih tersayat lagi saat kemudian kamu menangis dalam-dalam. Bukankah aku yang semestinya menangis lebih kencang?

Kita berhenti di kilometer 97. Mobil kutepikan lalu mesin kumatikan. Kamu turun lebih dahulu. Angin memainkan pelan rambutmu dan dalam hati aku ingat kenapa aku pernah mencintaimu. Pernah? Mungkin sampai kini pun aku masih mencintaimu. Siapa yang benar-benar tahu tentang perasaan?

Lalu kamu berkata seperti itu: "Dalam sebelah matamu bernaung aku." Aku tak mengerti apa artinya sama sekali. Aku selalu lemah dalam kata dan puisi. Sedang kamu menjadikan kata-kata yang keluar dari mulutmu serupa bait dan sajak. 

Sesaat kita diam. Lambat-lambat terdengar kata selanjutnya dari mulutmu. Pelan namun tajam,

"Aku hamil anakmu."


***
Kamu ingat cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari yang kamu lihat sehari-hari. Kamu ingat merah yang semburat dari bangku sebelah kirimu. Kamu ingat teriakan dan bunyi karet yang terbakar. Kamu ingat semua namun tak yakin apa itu benar-benar terjadi.

Kamu ingat pula tentang luwak yang mengunyah arbei dan memuntahkan biji-biji kopi. Luwak yang sama yang hinggap di kepalamu dan menghisap sumsum dari tulang belakangmu. Masihkah kamu layak mempercayai ingatanmu?

Kamu ingat pula tangisanmu yang pecah siang itu.

Sabtu, 02 Maret 2013

Koper


“Sudah siap barang-barangmu?”, Tanya ibu.
Aku mengangguk ringan. Pandangan mataku kuarahkan ke satu koper hitam yang terletak di samping meja makan dekat tempat kami duduk sekarang. Ayah dan Ibu duduk berdampingan sedang aku duduk seorang diri di seberang mereka.
Ayah diam saja sambil beberapa kali tangannya menyendokkan sekumpulan nasi dan lauk ke mulut. Aku kemudian beranjak ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibu tampak memperhatikan koperku lekat-lekat. Sekembalinya aku duduk ia kemudian menanyaiku lagi.
“Kecil sekali kopermu. Cukup kah?”
Aku tersenyum kemudian menjawab, “Cukup Ibu.”
Rupa-rupanya jawabanku tidak cukup membuatnya puas. Ia kemudian memberendongku dengan pertanyaan-pertanyaan: berapa kemeja yang aku bawa? Apakah aku membawa kaus kaki? Bagaimana dengan celana dalam dan kaus singlet. Semuanya. Setiap aku menjawab, ia akan selalu berkata aku membawa terlalu sedikit. Selanjutnya aku akan meyakinkannya bahwa aku memang tak perlu membawa terlalu banyak.
Ayahku tetap diam saja. Saat piringnya sudah mulai bersih ia memberi isyarat pada ibu untuk mengambilkannya minum di dapur. Ibuku menanyakan apakah ingin sekalian dibuatkan teh manis hangat. Ayahku mengangguk.
“Bawa Al-Qur’an?” Tanya Ayahku tiba-tiba sesaat setelah ibu meninggalkan meja.
Aku mencoba mengingat-ingat sesaat dan kemudian berkata dengan yakin bahwa aku membawanya.  Ayahku tersenyum kemudian berkata  pelan namun tegas,
“Pesanku.” Bukanya. “Baik-baiklah menjaga diri nanti di tempat orang. Jaga Solatmu. Kitab itu jangan hanya kau bawa, sekali-kali kau baca juga.”
Aku mengangguk.
“Lalu,” sambungnya. “ Ingat, kau itu lelaki. Kau akan sendiri dan ini adalah langkah pertamamu. Ada saat dimana kamu merasa bahwa kau tak kuat. Pada saat seperti itu hanya satu pesanku: bertahanlah.”
“Bertahan?” tanyaku bingung.
Ayahku tersenyum.
“Iya bertahan. Sederhana.  Jangan keluar pada setiap saat kau temui halangan. Hadapi. Ambil pelajaran entah baik atau buruk. Yakinlah bahwa selama niatmu tulus, tak ada pekerjaanmu yang akan sia-sia.”
Kudengarkan baik-baik saran dari ayahku itu. Dalam otakku tiba-tiba berkelibat kehidupanku selama ini. Saat itu kemudian aku sadar: seumur hidupku tak pernah ada nasihat ayahku yang membuatku celaka. Justru sebagian besar kesalahanku aku lakukan saat aku tak mendengarkan nasihat Ayahku.
“Iya pa. Insyaallah.” Jawabku.
Ibu kemudian datang membawa teh manis hangat untuk Ayah. Ayahku menerimanya sembari tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Ibuku membalasnya dengan senyum. Tiba-tiba aku merasa sedih.
Kutundukkan wajahku. Aku berpikir bahwa aku takkan bisa lagi sering-sering melihat pemdangan ini. Nanti setelah aku pergi, Ayah dan Ibu hanya akan hidup berdua. Kemudian aku akan menikah dan memiliki anak. Apa aku harus benar-benar pergi?
Aku tak yakin bahwa aku ingin benar-benar pergi. Apakah ikatan keluarga kami terputus hanya seperti ini? Masa bayi, beranjak kanak-kanak kemudian sekolah dan kuliah lalu pada akhirnya lulus dan harus bekerja. Selesaikah hubungan kami setelah aku bekerja?
Sumpah mati aku masih ingin tinggal disini. Memanggil Ayah dan Ibu dan merasakan nyamannya hidup dengan aroma tubuh mereka. Tinggal bersama Ayahku dan merasa yakin bahwa semua akan baik-baik saja. Tak perlu kukhawatirkan tentang malam atau esok hari.
Lalu Ibuku. Ah, Ibuku tercinta. Betapa aku akan merindukan masakan-masakan yang dibuatnya.  Tak pernah kutemui masakan seenak buatannya. Aku tak berbohong saat mengatakan hal itu. Masakan di restoran termahal sekalipun yang pernah kumakan tak mampu mengalahkan kelezatan masakan ibu. Setiap saat kutanya apa rahasianya ia hanya tertawa kecil dan menjawab:
“Karena Ibu pakai Vitamin C. Vitamin Cinta!”
Dan kini aku harus keluar dari rumah? Untuk apa? Setelah itu aku seakan-akan takkan menjadi anak mereka. Aku hanya bertemu mereka sesekali. Saat lebaran atau liburan panjang. Selain itu? Aku sendiri.
Aku menunduk. Kurasakan mataku terasa hangat. Air mataku menetes.

Balikpapan

Pikiran pertama yang hinggap di pikirannya saat pertama kali turun dari pesawat adalah betapa tak ada bedanya antara Jakarta dengan Balikpapan. Namun saat keluar dari naungan atap bandara dan merasakan panasnya matahari baru ia benar-benar sadar bahwa ia sudah tak ada di Jakarta lagi.
Sudah beberapa menit berlalu sejak ia mengambil kopernya. Ia bersyukur tak perlu menunggu lama. Baru lewat tiga koper saat ia melihat koper Ellenya dari kejauhan. Ia melirik jam yang tergantung di atas jadwal kedatangan pesawat. Ia mengerenyitkan alisnya sesaat sebelum akhirnya ingat untuk menyetel jamnya maju satu jam. Ia kini berada di masa depan.
Ia tampik halus tawaran taksi dari orang-orang yang tampak sama terganggunya dengan dirinya terhadap panas. Ia mengeluarkan telepon dan mencoba mengingat-ingat suatu nama. Pembicaraan singkat terjadi di telepon kemudian ia melangkah ringan ke anjungan naik-turun penumpang.
Dirogohnya saku dan dikeluarkan sebatang rokok. Ia mengorek-ngorek saku jaket untuk mencari  korek. Ia tersenyum saat mengingat di Soekarno-Hatta para petugas bagasi mengetahui bahwa ia membawa korek namun membiarkannya saja. Dibakarnya lalu dihisap kuat-kuat rokoknya dan dihembusnya ke udara Balikpapan. Asap pertama dari jutaan asap yang akan dihembuskannya di kota ini.
Dari sebelah kanannya berjalan lambat mobil Innova baru kemudian berhenti tepat di depannya. Jendela penumpang depannya terbuka dan suara supir terdengar lantang saat menanyakan apakah ia Aldo. Ia mengangguk. Dimatikannya rokok yang sebenarnya baru dihisap sesaat itu. Dimasukkannya barang ke bagasi lantas duduk di bangku depan.
Ia mengantuk. Sungguh mengantuk

Komemorasi

Aldo, anda membuat blog lagi?

Ya, saya rasa begitu. Namun jika pertanyaannya adalah untuk apa, saya benar-benar tak bisa menjawabnya. Mungkin saya hanya ingin menulis saja. Mungkin blog ini adalah lembaran kertas kosong lain yang siap ditulis. Siapa tahu?