Sabtu, 18 Mei 2013

Berjalan di tengah hutan

Ia datang jauh dari negerinya. Menjulur beberapa serupa tangan dari lubang kemejanya dan angin pelan-pelan berhembus seakan tak ingin menganggunya.

Ia selalu senang jalan lebar seperti ini. Ia ingat tentang bayang-bayang dan beberapa ekor kenari yang sempat terbang namun jatuh ketika kerikil yang ia tembakkan melesat menabrak kepalanya. Lalu ia hanya akan tertawa-tawa riang kemudian mandi sore.

Pagi itu matahari sedang dalam perjalanan. Kembang merah tua menjulur dari balik sakunya.

"Ah, aku yang sekarang adalah aku yang tampan." ujarnya pada kembang merah tua.

Kembang merah tua itu mengangguk mengantuk diusap angin. Laki-laki itu tetap berjalan menyisir sungai sambil mengingat masa lalu. Dan masa kini rasanya tak pernah ada. Beberapa kali ia menampara pipinya sendiri untuk meyakinkan bahwa dirinya masih benar-benar ada saat ini.

Mimpinya tertinggal. Sementara bola matanya menggelinding diantara ranting pohon dan tumpukan daun, mulutnya menggumam rasa cinta. Ia ingat betul hutan ini. Ia ingat udara yang mengalir dibawah darahnya. Sayang ia tak pernah benar-benar ingat tentang dirinya, jadi ia tak bisa yakin bahwa memang benar-benar dirinya yang berjalan di hutan ini saat ini atau beberapa tahun silam.

Sampai pula ia di sungai. Ia ingat kekasihnya dan tentang betapa ia mencintainya. Kekasihnya pun mencintainya setengah mati. Sayang, maut hanya tersenyum pelan menyaksikan cerita mereka. Giginya menguning dikerak waktu dan bola matanya memerah karena kehabisan air mata.

"Hai bung! Ibumu meninggal kemarin!" jerit suara.

Sebenarnya ia ingat betul itu suaranya namun hati kecilnya selalu berkata bahwa kata-kata yang serupa darinya namun bukan darinya adalah dusta. Dan jemari yang menampar pipimu perlahan-lahan pun mendadak menjadi tamparan sakit yang membuatmu menggigit bibir.

Lalu ia ingat kekasihnya. Ia ingat ibunya. Tak pernah sekalipun ia ingat dirinya, sayang. Ia ingat tentang kembang merah tua yang diberikan oleh ayahnya setiap tahun untuk ibunya. Kembang yang sama tak pernah ia berikan pada kekasihnya. Ia memberikan kembang merah tua yang sama persis namun tetap bukan kembang yang sama.

Di bawah matahari di tengah hutan, ia tersenyum. Tak tahu lagi apa yang sebenarnya ia pikirkan. Ia memikirkan tentang matahari dan segala. Beberapa mungkin tentang bulan dan ibunya. Sayang air matanya mencegah ia untuk berpikir lebih jauh.

Akan pulang kah ia? Aku tak tahu walau aku penulis cerita ini. Aku tahu pasti ia akan berhenti beberapa kali lalu menangis sesengukkan dibawah ceremai. Tapi rumah? Ah, aku tak tahu. Sungguh tak tahu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar