Senin, 11 Maret 2013

Kamu pernah kehilangan bola matamu

"Kamu pernah kehilangan bola matamu?"

Aku menggeleng. Kemudian berkata pelan, "Aku tak tahu. Aku tak pernah mengeceknya..."

Lalu kita diam. Di depan kita jalanan tampak semakin sepi. Hanya lampu jalan yang mendesis ringan dari kejauhan tempat kita duduk di halte. Kamu tampak sibuk memperhatikan bayangan dan aku sibuk memperhatikanmu. Aku genggam ringan tanganku sendiri.

"Mengapa kamu memegang tanganmu sendiri?" tanyamu lagi.

Aku hanya diam sembari mengangkat bahu pelan menyiratkan tak tahu. Aku mungkin saja tak tahu. Setelah kupikir lagi aku memang tak tahu mengapa harus mengenggam ringan tanganku sendiri. 

"Haruskah kamu menanyakan tentang segala sesuatu?" balasku.

Kamu menatap mataku. Dan demi Tuhan aku bersumpah itu adalah bola mata yang pernah aku lihat selama ini. Aku mengalihkan perhatian ke arah jalanan. Aku tak mampu lebih lama lagi menatap ke bola mata itu. Bola mata yang sama yang membuatku jantungku terbakar dan aliran darahku mengalir deras ke seluruh tubuh. 

Aku melirik lagi ke arahmu dan kamu tetap menatapku. Kenapa pula kamu masih menatapku dengan bola mata indah terkutukmu itu? Aku membuang pandang lagi ke arah lampu. Lalu ke arah jalanan tempat semestinya Bus kita muncul dari kejauhan. Aku mengeluarkan handphone tapi tak benar-benar tahu apa yang harus kulakukan. 

Aku melihat jam yang tertampil disitu. Semestinya kita sudah pulang. Kamu akan turun lebih dahulu lalu aku menyambung angkot beberapa kilometer lagi dari tempatmu turun. Kamu tak pernah mau kuantar ke rumahmu. Aku tak pernah menanyakan kenapa. Bisa duduk denganmu selama beberapa menit di atas angkot saja sudah membuatku bersyukur.

"Er...mungkin..." ujarmu tiba-tiba memecah kesunyian.

"Eh, apa?" tanyaku.

"Itu tadi jawabanku. Mungkin aku memang harus menanyakan segala sesuatu.."

"Jadi selama tadi kamu diam hanya memikirkan jawaban pertanyaanku?"

Kamu menjawab pertanyaanku dengan angukkan lalu tersenyum manis. Tawaku meledak. Kamu memandang heran lalu kemudian ikut tertawa denganku. Di kejauhan tampak samar-samar lampu angkot yang akan membawa kita pulang masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar