“Sudah siap
barang-barangmu?”, Tanya ibu.
Aku mengangguk
ringan. Pandangan mataku kuarahkan ke satu koper hitam yang terletak di samping
meja makan dekat tempat kami duduk sekarang. Ayah dan Ibu duduk berdampingan
sedang aku duduk seorang diri di seberang mereka.
Ayah diam saja
sambil beberapa kali tangannya menyendokkan sekumpulan nasi dan lauk ke mulut.
Aku kemudian beranjak ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibu tampak
memperhatikan koperku lekat-lekat. Sekembalinya aku duduk ia kemudian menanyaiku
lagi.
“Kecil sekali
kopermu. Cukup kah?”
Aku tersenyum
kemudian menjawab, “Cukup Ibu.”
Rupa-rupanya
jawabanku tidak cukup membuatnya puas. Ia kemudian memberendongku dengan
pertanyaan-pertanyaan: berapa kemeja yang aku bawa? Apakah aku membawa kaus
kaki? Bagaimana dengan celana dalam dan kaus singlet. Semuanya. Setiap aku
menjawab, ia akan selalu berkata aku membawa terlalu sedikit. Selanjutnya aku
akan meyakinkannya bahwa aku memang tak perlu membawa terlalu banyak.
Ayahku tetap
diam saja. Saat piringnya sudah mulai bersih ia memberi isyarat pada ibu untuk
mengambilkannya minum di dapur. Ibuku menanyakan apakah ingin sekalian
dibuatkan teh manis hangat. Ayahku mengangguk.
“Bawa
Al-Qur’an?” Tanya Ayahku tiba-tiba sesaat setelah ibu meninggalkan meja.
Aku mencoba
mengingat-ingat sesaat dan kemudian berkata dengan yakin bahwa aku membawanya. Ayahku tersenyum kemudian berkata pelan namun tegas,
“Pesanku.”
Bukanya. “Baik-baiklah menjaga diri nanti di tempat orang. Jaga Solatmu. Kitab
itu jangan hanya kau bawa, sekali-kali kau baca juga.”
Aku
mengangguk.
“Lalu,”
sambungnya. “ Ingat, kau itu lelaki. Kau akan sendiri dan ini adalah langkah
pertamamu. Ada saat dimana kamu merasa bahwa kau tak kuat. Pada saat seperti
itu hanya satu pesanku: bertahanlah.”
“Bertahan?”
tanyaku bingung.
Ayahku
tersenyum.
“Iya bertahan.
Sederhana. Jangan keluar pada setiap
saat kau temui halangan. Hadapi. Ambil pelajaran entah baik atau buruk.
Yakinlah bahwa selama niatmu tulus, tak ada pekerjaanmu yang akan sia-sia.”
Kudengarkan baik-baik
saran dari ayahku itu. Dalam otakku tiba-tiba berkelibat kehidupanku selama
ini. Saat itu kemudian aku sadar: seumur hidupku tak pernah ada nasihat ayahku
yang membuatku celaka. Justru sebagian besar kesalahanku aku lakukan saat aku
tak mendengarkan nasihat Ayahku.
“Iya pa.
Insyaallah.” Jawabku.
Ibu kemudian
datang membawa teh manis hangat untuk Ayah. Ayahku menerimanya sembari
tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Ibuku membalasnya dengan senyum.
Tiba-tiba aku merasa sedih.
Kutundukkan
wajahku. Aku berpikir bahwa aku takkan bisa lagi sering-sering melihat
pemdangan ini. Nanti setelah aku pergi, Ayah dan Ibu hanya akan hidup berdua.
Kemudian aku akan menikah dan memiliki anak. Apa aku harus benar-benar pergi?
Aku tak yakin
bahwa aku ingin benar-benar pergi. Apakah ikatan keluarga kami terputus hanya
seperti ini? Masa bayi, beranjak kanak-kanak kemudian sekolah dan kuliah lalu
pada akhirnya lulus dan harus bekerja. Selesaikah hubungan kami setelah aku
bekerja?
Sumpah mati
aku masih ingin tinggal disini. Memanggil Ayah dan Ibu dan merasakan nyamannya
hidup dengan aroma tubuh mereka. Tinggal bersama Ayahku dan merasa yakin bahwa
semua akan baik-baik saja. Tak perlu kukhawatirkan tentang malam atau esok
hari.
Lalu Ibuku.
Ah, Ibuku tercinta. Betapa aku akan merindukan masakan-masakan yang
dibuatnya. Tak pernah kutemui masakan
seenak buatannya. Aku tak berbohong saat mengatakan hal itu. Masakan di
restoran termahal sekalipun yang pernah kumakan tak mampu mengalahkan kelezatan
masakan ibu. Setiap saat kutanya apa rahasianya ia hanya tertawa kecil dan
menjawab:
“Karena Ibu
pakai Vitamin C. Vitamin Cinta!”
Dan kini aku
harus keluar dari rumah? Untuk apa? Setelah itu aku seakan-akan takkan menjadi
anak mereka. Aku hanya bertemu mereka sesekali. Saat lebaran atau liburan
panjang. Selain itu? Aku sendiri.
Aku menunduk.
Kurasakan mataku terasa hangat. Air mataku menetes.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar