Sabtu, 02 Maret 2013

Koper


“Sudah siap barang-barangmu?”, Tanya ibu.
Aku mengangguk ringan. Pandangan mataku kuarahkan ke satu koper hitam yang terletak di samping meja makan dekat tempat kami duduk sekarang. Ayah dan Ibu duduk berdampingan sedang aku duduk seorang diri di seberang mereka.
Ayah diam saja sambil beberapa kali tangannya menyendokkan sekumpulan nasi dan lauk ke mulut. Aku kemudian beranjak ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibu tampak memperhatikan koperku lekat-lekat. Sekembalinya aku duduk ia kemudian menanyaiku lagi.
“Kecil sekali kopermu. Cukup kah?”
Aku tersenyum kemudian menjawab, “Cukup Ibu.”
Rupa-rupanya jawabanku tidak cukup membuatnya puas. Ia kemudian memberendongku dengan pertanyaan-pertanyaan: berapa kemeja yang aku bawa? Apakah aku membawa kaus kaki? Bagaimana dengan celana dalam dan kaus singlet. Semuanya. Setiap aku menjawab, ia akan selalu berkata aku membawa terlalu sedikit. Selanjutnya aku akan meyakinkannya bahwa aku memang tak perlu membawa terlalu banyak.
Ayahku tetap diam saja. Saat piringnya sudah mulai bersih ia memberi isyarat pada ibu untuk mengambilkannya minum di dapur. Ibuku menanyakan apakah ingin sekalian dibuatkan teh manis hangat. Ayahku mengangguk.
“Bawa Al-Qur’an?” Tanya Ayahku tiba-tiba sesaat setelah ibu meninggalkan meja.
Aku mencoba mengingat-ingat sesaat dan kemudian berkata dengan yakin bahwa aku membawanya.  Ayahku tersenyum kemudian berkata  pelan namun tegas,
“Pesanku.” Bukanya. “Baik-baiklah menjaga diri nanti di tempat orang. Jaga Solatmu. Kitab itu jangan hanya kau bawa, sekali-kali kau baca juga.”
Aku mengangguk.
“Lalu,” sambungnya. “ Ingat, kau itu lelaki. Kau akan sendiri dan ini adalah langkah pertamamu. Ada saat dimana kamu merasa bahwa kau tak kuat. Pada saat seperti itu hanya satu pesanku: bertahanlah.”
“Bertahan?” tanyaku bingung.
Ayahku tersenyum.
“Iya bertahan. Sederhana.  Jangan keluar pada setiap saat kau temui halangan. Hadapi. Ambil pelajaran entah baik atau buruk. Yakinlah bahwa selama niatmu tulus, tak ada pekerjaanmu yang akan sia-sia.”
Kudengarkan baik-baik saran dari ayahku itu. Dalam otakku tiba-tiba berkelibat kehidupanku selama ini. Saat itu kemudian aku sadar: seumur hidupku tak pernah ada nasihat ayahku yang membuatku celaka. Justru sebagian besar kesalahanku aku lakukan saat aku tak mendengarkan nasihat Ayahku.
“Iya pa. Insyaallah.” Jawabku.
Ibu kemudian datang membawa teh manis hangat untuk Ayah. Ayahku menerimanya sembari tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Ibuku membalasnya dengan senyum. Tiba-tiba aku merasa sedih.
Kutundukkan wajahku. Aku berpikir bahwa aku takkan bisa lagi sering-sering melihat pemdangan ini. Nanti setelah aku pergi, Ayah dan Ibu hanya akan hidup berdua. Kemudian aku akan menikah dan memiliki anak. Apa aku harus benar-benar pergi?
Aku tak yakin bahwa aku ingin benar-benar pergi. Apakah ikatan keluarga kami terputus hanya seperti ini? Masa bayi, beranjak kanak-kanak kemudian sekolah dan kuliah lalu pada akhirnya lulus dan harus bekerja. Selesaikah hubungan kami setelah aku bekerja?
Sumpah mati aku masih ingin tinggal disini. Memanggil Ayah dan Ibu dan merasakan nyamannya hidup dengan aroma tubuh mereka. Tinggal bersama Ayahku dan merasa yakin bahwa semua akan baik-baik saja. Tak perlu kukhawatirkan tentang malam atau esok hari.
Lalu Ibuku. Ah, Ibuku tercinta. Betapa aku akan merindukan masakan-masakan yang dibuatnya.  Tak pernah kutemui masakan seenak buatannya. Aku tak berbohong saat mengatakan hal itu. Masakan di restoran termahal sekalipun yang pernah kumakan tak mampu mengalahkan kelezatan masakan ibu. Setiap saat kutanya apa rahasianya ia hanya tertawa kecil dan menjawab:
“Karena Ibu pakai Vitamin C. Vitamin Cinta!”
Dan kini aku harus keluar dari rumah? Untuk apa? Setelah itu aku seakan-akan takkan menjadi anak mereka. Aku hanya bertemu mereka sesekali. Saat lebaran atau liburan panjang. Selain itu? Aku sendiri.
Aku menunduk. Kurasakan mataku terasa hangat. Air mataku menetes.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar