"Ya, Tuhan. Apakah memang kamu tak pernah tertidur?"
Aku melirik asal suara itu lalu tersenyum datar. Mataku lelah (sebenarnya) tapi kurahasiakan baik-baik dari diriku sendiri. Kopi mengepulkan asapnya pelan di atas meja sementara kamu berjalan lambat-lambat ke arahku.
"Aku tidur sayang. Hanya saat kamu tak bertanya apakah aku tak pernah tertidur itulah aku benar-benar tertidur, "jawabku ringan.
Kamu menggeleng. "Sinting," ujarmu.
Lalu aku tertawa terbahak-bahak.
***
"Kamu tinggal dimana sekarang?", ujarmu diseberang.
Aku diam. Disekitarku udara dingin seakan-akan membuatku menghilang lambat-lambat. Salju turun tergesa-gesa mengusirku dari telepon umum. Aku diam saja. Dimana lagi aku bisa mendengar suaramu?
"Aku ingin tinggal denganmu selamanya sebenarnya." tak kuucapkan. Dalam hati aku benar-benar berharap kamu mendengarnya.
"Hey, aku tanya kamu tinggal dimana sekarang?" tanyamu sekali lagi.
"Ah," kataku pelan. "Di pinggir kota, ada rumah seorang teman yang kebetulan penghuninya berlibur."
Aku mengarahkan mata kepada matahari. Entah apa maksudku. Kamu katakan aku butuh liburan. Aku tak setuju sebenarnya tapi siapa yang benar-benar bisa tak setuju denganmu?
"Masih di negara yang sama?"
"Tidak," jawabku singkat.
"Bagus," kamu tersenyum dengan suara.
Ah betapa aku merindukanmu dengan jutaaan kilometer yang berada diantara kita.