Sabtu, 18 Januari 2014

Bulan madu

"Kapan terakhir kali kita keluar berdua saja?"

Suaramu jernih terdengar. Aku hanya tertawa. Dari jauh pelan-pelan awan hitam terlihat mulai menggelayut diatas kita. Aku rasa hujan segera tiba. Haruskah kita pulang?"

Kamu tetap saja duduk diatas bangku taman tak terpengaruh dengan cuaca. Aku harap kamu mau menoleh keatas sebentar saja sehingga kamu sadar bahwa kita sudah seharusnya pergi sejak tadi. Tapi tidak. Matamu hanya memperhatikanku.

Lama-lama terasa juga aliran darah mulai merayap ke wajahku. Laki-laki mana yang bisa tak salah tingkah jika diperhatikan gadis secantik dirimu? Hei, sejak kapan aku berjalan bersama gadis secantik dirimu?

"...empat minggu lalu? Aku juga tak begitu yakin.." jawabku pelan.

Kamu kemudian berhenti menatapku dan mulai menatap seberang. Tak kamu perhatikan orang-orang yang lalu lalang di sekitar kita. Kamu hanya mencoba meraih masa lalu baik-baik dan kemudian membagikannya untukku.

"Empat minggu lalu..." gumammu pelan. "Toko kaset? Ataukah waktu kamu terpaksa harus meminjam toilet ke bengkel?"

Aku tertawa. Aku tak menyangka kamu masih ingat saat aku terburu-buru keluar dari mobil dan terpaksa meminjam toilet di sebuah bengkel. Mungkin seharusnya tak kumakan sop yang tersisa di kulkas semalam sebelum kita pergi itu.

"Ya."

"Ya yang mana?"

"Toilet."

Kemudian kamu tersenyum. Aku tersenyum. Kemudian kamu berkata pelan,

"Di kencan kita yang berikutnya, ingatkan aku bahwa kencan kita sebelumnya adalah di sebuah taman. Lalu kamu menyatakan cinta padaku."

Wajahku merah padam. Aku tersenyum dan mengangguk.

"Tapi kupikir-pikir lagi." ujarmu tiba-tiba.

"Mana pernah bisa aku lupa kamu bilang cinta padaku?" lanjutmu. "Mungkin di masa depan aku bisa lupa dengan kencan-kencan kita. Aku mungkin lupa dengan kaus dan sepatu apa yang kau gunakan. Aku bisa lupa makanan apa yang kita makan. Aku bisa saja lupa bahwa aku cinta padamu. Tapi aku tak pernah lupa bahwa pada suatu taman kamu pernah bilang kamu cinta padaku."

Aku hanya terdiam. Ada bagian yang tak mengerti dari kalimatmu yang membuatku sedikit merinding.

"Pulang?" ajakku.

"Ayo."

Selasa, 07 Januari 2014

Di taman

"Mungkin kita memang harus seperti ini," ujarmu.

Aku kemudian hanya menggeleng dan melihat kemana saja. Aku benar-benar tak tahu harus berkata apa. Aku ingin pergi sebenarnya. Tapi pergi kemana?

"Omong kosong," jawabku singkat.

Kamu kemudian yang ganti diam. Matamu membulat dan samar-samar aku melihat air mata di sudut matamu. Ah bangsat, air mata yang sama yang selalu membuatku tak mampu lebih jauh memaksamu.

Kita tak pernah tahu darimana angin berada. Aku ingat saat SD dulu dikatakan bahwa angin tercipta karena perbedaan suhu. Walau ragu, mungkin ada tempat lain yang lebih dingin dibandingkan dengan taman ini sehingga angin berhembus. Atau lebih panas? Ah, aku lupa. Aku tak peduli.

Angin tak berani mengganggu dan hanya diam-diam hilir mudik di sekitar kita. Aku menatapmu pelan-pelan. Kamu mencoba merias muka dengan senyum. Aku ingin tertawa melihat wajahmu yang kacau: tangis bercampur senyum. Tapi mana bisa aku tertawa saat melihat wajahmu yang sedemikian cantik?

"...mungkin saja ..." tapi tak kau teruskan ucapanmu.

"Mungkin apa?"

Kamu kemudian menggeleng. Aku mendesah pelan. Ingin sekali rasanya kulupakan kehadiranmu sama sekali dan kemudian kubakar sebatang rokok sambil menikmati taman ini. Kupikir-pikir sebenarnya taman ini tak buruk juga. Pepohonan disana-sini, orang-orang tua yang sedang berjogging, anak-anak muda yang saling bercanda. Di seluruh kebahagiaan yang tampak disana-sini kehadiran kita berdua di kursi ini tampak bagai anomali kesedihan.

Aku diam-diam berpikir mungkin lain kali aku harus datang kesini dengan suasana hati lain. Berani taruhan, aku bisa diam saja disini selama berjam-jam tanpa bosan. Kontras dengan sekarang. Aku baru 10 menit bersamamu tapi aku sudah muak. Benar, aku muak.

Senyum kemudian tersungging di bibirku. Dan aku berani bersumpah aku tak mengerti kenapa aku tersenyum. Mungkin karena aku sudah mengerti tentang perasaanku padamu, mungkin aku sudah mengerti tentang perasaanmu padaku, mungkin juga karena aku sudah tak peduli tentang perasaan kita antara satu sama lain. Atau mungkin--dan kupikir ini adalah jawaban yang paling benar- karena aku hanya ingin tersenyum saja. Sederhana.

Aku kemudian berdiri pelan hendak pergi. Kamu nampak kaget dan menatapku pelan. Kemudian kamu bertanya,

"Hendak kemana?"

"Pergi." jawabku singkat.

Kamu semakin nampak tak percaya.

"Lalu....kita?"

Kuhentikan langkahku pelan. Aku menghela nafas kemudian berkata,

"Bukankah kamu bilang kita memang harus begini? Ya sudah, aku pergi. Untuk apa duduk lebih lama lagi?"

Air matamu keluar lagi. Lucu memang betapa air matamu yang sampai beberapa menit lalu berhasil membuatku takluk tak berarti apa-apa lagi kini. Aku justru muak dan bosan melihat tangisanmu. Aku ingin menempelengmu walau kuredam setengah mati keinginan itu.

"Sudah, begitu saja?" tanyamu.

Aih, keparat satu ini masih juga mencoba peruntungannya.

"Lalu mau apalagi? Aih nona, aku sudah berikan semuanya untukmu. Aku mencintaimu setengah mati, sungguh. Telepon-telepon tengah malammu sambil terisak? Mana pernah kutolak walau aku selalu lembur. Cerita-ceritamu yang kau ceritakan? Mana pernah aku berkata cukup walau ceritamu sungguh membosankan. Aku menunggumu bertahun-tahun, kemudian kamu begitu saja mencintai orang lain. Kupikir-pikir lagi tolol juga kenapa pula aku mengajakmu ke taman ini untuk memberi tahumu perasaanku walau sebenarnya aku tahu perasaanmu padaku. Selamat sore."

Aku kemudian melangkah meninggalkanmu. Dan benar saja, semakin lama aku berjalan menyusuri taman ini semakin kusadari bahwa taman ini memang benar-benar indah.