Rabu, 20 Agustus 2014

Santa Fe

Lalu jam berapa aku harus pulang, tanyaku dalam hati.
“Sesukamu lah.” Suaramu terdengar. Mendesis bagaikan menyelinap diam-diam di tengah malam. Sekarang pukul satu malam kurasa. Dulu waktu kecil, jam-jam segini adalah jam-jam paling mengerikan. Orang-orang dulu berkata bahwa jam satu malam adalah jam dimana hantu-hantu mulai keluar.
Mungkin ada benarnya juga karena setelah aku besar pun hantu tetap ada. Tapi hantu pada akhirnya hanyalah manusia. Selalu manusia.
 Masih pukul satu, aku curiga waktu enggan berjalan cepat jika aku bersamamu. Kamu duduk di beranda rumahmu dan aku sibuk merokok di halaman rumahmu sembari berpikir jenis dari masing-masing pohon yang tertanam di rumahmu.
Rumahmu tidak besar, tapi aku selalu kagum melihat halaman rumahmu. Dulu saat ayahmu masih hidup ia akan selalu menceritakan dengan gembira tentang tamannya ini. Bagaimana ia mencari bibit, mengaduk pupuk, menyirami, menghilangkan hama. Ia selalu menceritakan dengan bahagia seakan-akan tumbuhan-tumbuhan ini adalah anak-anaknya.
Ada yang bilang bahwa orang menanam karena ingin merasa di butuhkan. Manusia itu selalu ingin dihargai kontribusinya dan tanaman adalah yang paling jujur. Ia akan tumbuh indah saat dirawat dengan baik atau mati saat ia tidak diperhatikan. Mungkin benar. Mungkin juga tidak.
Sepeninggal Ayahmu taman ini masih tampak terurus padahal aku tahu benar bahwa kamu tak pernah peduli pada taman ini. Kamu lebih memilih duduk di bangku memandang kosong. Tapi tumbuhan-tumbuhan ini tetap tumbuh indah seakan mengucapkan terima kasih tak berujung pada almarhum.
“Apa kamu ingat,” tanyaku tiba-tiba.
Kamu lalu memandangku. Terlihat dari rautmu kamu baru saja membuyarkan beberapa angan tentang sesuatu. Bibirmu terbuka, suaramu kembali keluar tapi tak lagi berupa desisan.
“Ingat tentang apa?”
“Ayahmu pernah bercerita tentang tumbuhannya yang diambil dari Santa Fe.” Ujarku. “ Kamu masih ingat yang mana.”
Mendengar pertanyaanku mau tak mau kamu menggali ingatan. Telunjuk langsingmu perlahan bergerak dari pinggiran kursi menuju pelipis.
“Mungkin yang itu .” tunjukmu. Di ujung jari ada tanaman pendek berbunga putih. Tidak terlalu indah tapi ada pesona aneh yang sanggup membuat seseorang tertarik pada tanaman itu.
Mendengar jawabanmu aku mengangguk setuju. Sekarang pukul setengah dua. Hantu-hantu mungkin masih ada tapi aku harus segera pulang menemui istriku.

Minggu, 02 Maret 2014

Musim dingin di Texas

Belakangan diperhatikannya bahwa semakin banyak daun gugur yang menunggu didepan pintu. Mungkin tampak aneh tapi ia jadi sering bertanya apa yang terjadi jika ia terlahir sebagai daun.

Lahir di musim semi, tumbuh lalu teman-temannya mulai terjatuh saat musim gugur. Ia tak bisa tahu pasti kapan ia akan jatuh, Mungkin hari pertama musim gugur, tiga hari berikutnya, atau bisa saja ia gugur pada musim dingin. Tidak ada yang tahu.

Kemudian saat musim dingin jika memang masih ada darinya yang tersisa, ia akan mulai terkoyak pelan dihajar waktu. Tak sempat mengerang karena memang daun tak punya suara. Ia takkan menyalahkan pohon, justru ia akan berterima kasih karena sudah membiarkannya hidup walau sesaat.

Tapi kemudian saat ia habis tinggal kerangka, ia akan berandai-andai pula apa yang terjadi jika ia tak harus gugur saat itu. Ia mungkin hanya akan merenggang beberapa hari, minggu, musim, atau tahun. Atau mungkin jika ia beruntung ia bisa hidup selama pohon itu hidup. Dan saat pohon itu mati, mungkin saat itu pula ia hancur.

Daun yang jatuh tak sempat berandai-andai semacam itu. Jadi mungkin kekhawatiran sehelai daun hanya hidup di pikirannya saja. Ia bersyukur lahir bukan sebagai daun. Pikiran itu sempat hidup beberapa saat sampai ia bergidik: apa mungkin daun juga bersyukur tidak hidup sebagai manusia?

Hidup sembilan bulan sebagai parasit, kemudian lahir dan belasan tahun menjadi tanggungan induknya. Lalu ia bekerja dan mendadak kehidupan menjadi rutinitas yang membosankan. Tahu-tahu ia beranak pinak, lantas mati. Begitu saja.

Daun mungkin bersyukur ia tidak menjadi manusia dengan alasan yang hanya daun mengerti. Alasan yang sama kenapa ia bersyukur tidak menjadi daun dengan alasan yang manusia mengerti. Mungkin alasan mereka sama dengan bahasa mereka sendiri, mungkin juga tidak. Atau mungkin tidak ada hidup yang lebih baik antara semua makhluk. Aku tak tahu.

***

Pintu ruang inap 601 terbuka pelan. Samar-samar tercium aroma berbagai macam bunga tercampur menjadi satu. Mungkin karena ruangan itu tidak terlalu besar--kira-kira hanya 3x4 meter- lama-lama ruangan jadi terasa penuh dengan aroma.

Wanita yang baru masuk tadi lantas menaruh bunga di dalam vas yang sudah berhari-hari kosong. Tampak krisan, aster, dan beberapa jenis bunga lain. Ia kemudian melangkah pelan mengambil air dingin yang disimpannya di dalam kulkas kecil di samping kasur pasien untuk vas bunga itu.

Ia kemudian menatap sosok yang tergolek diatas kasur itu. Laki-laki muda. Seharusnya ia berusia 29 tahun Agustus ini tapi tak tampak sama sekali kegagahannya. Alih-alih otot tangan yang kekar, yang tersisa hanya otot yang terus mengecil karena jarang dipakai. Rambut hitamnya yang lebat, kini tampak menipis. Wajah persegi yang selalu dicintainya tampak semakin tirus. 

Tak terasa air matanya menetes perlahan. Ia hendak mengusapnya saat ia mendengar suara pelan, lirih, namun tegas:

"Kamu menangis?"

Cepat-cepat dibuang wajahnya sembaru mengusap air matanya dengan satu gerakan flamboyan. Ia kemudian menggeleng sambil berkata cepat,

"Menangis? Tidak." Ia kemudian lanjut berdusta, "Aku rasa alergi serbuk bungaku mulai menyerang."

Wanita itu kemudian perlahan mengambil air dingin dan mulai mengisi vas bunga. Setelah selesai ia melangkah pelan mengembalikannya ke kulkas kecil. Ia melempar senyum kepada pria itu. Senyum yang teramat sulit.

Siapa manusia yang takkan sedih melihat pemandangan macam itu? Laki-laki muda yang satu tahun lalu begitu perkasa mendadak serupa kerangka. Tapi ia tak bisa menangis dihadapanya. Oh, sungguh tidak.

"Kamu tak harus berbohong." Laki-laki itu berkata pelan. Matanya tajam memandang wanita itu. Cekungan boleh saja membuat wajahnya seperti tengkorak. Tapi sorot mata itu tak pernah berubah. Tegas, lugas, tanpa ampun.

"Tidak, sungguh. Sekarang sudah hampir bulan Maret. Sebentar lagi musim semi tiba dan musim dingin akan pergi. Bunga-bunga akan segera muncul."

Wanita itu tersenyum. Dalam hati ia tak percaya betapa lancarnya ia berdusta sekarang.

Laki-laki itu diam. Ia mengarahkan pandangan matanya ke jendela luar. Langit tampak cerah hari ini. Beberapa hari lalu sempat turun hujan namun kemudian cuaca menjadi panas. Minggu lalu bahkan sempat turun salju. Cuaca aneh seperti itu berlangsung sepanjang musim dingin kali ini.

Fort Worth hanya kota kecil di Texas. Tapi seperti kota-kota lain di Texas, musim dingin biasanya cukup hangat disini dibandingkan dengan negara bagian lain. Orang-orang bilang kamu beruntung jika dapat melihat salju disini, jadi bisa saja ia beruntung karena selama musim dingin disini ia sudah melihat salju tiga kali.

"Maret..." 

Laki-laki itu mendesah pelan. Sudah hampir enam bulan ia dirawat di rumah sakit ini. Wanita itu--istrinya, kemudian menarik kursi dan duduk disampingnya. Tangannya dengan lincah mulai mengupas Apel. 

Ia menggeleng pelan saat istrinya menawarkan apel yang sudah diirisnya dengan rapih itu. Istrinya memasang wajah kecut,

"Anwar, kamu harus makan. Sudah 2 hari ini kamu hanya minum air putih saja."

Anwar tersenyum. "Apa bedanya aku makan atau tidak..."

"...toh aku juga akan mati sebentar lagi."

Saat ia menjawab itu suaranya tampak lirih. Ia ingin menyangkal bahwa ia akan mati sebentar lagi tapi hari demi hari, keinginannya semakin lemah. Pisau waktu mengikis harapannya perlahan tapi pasti.

Pada awalnya ia tak percaya ia terkena Kanker Paru-paru.  Bagaimana bisa? Ia bahkan tak pernah merokok satu batang pun selama hidupnya. Ia pergi ke semua dokter di Fort Worth, jawaban mereka sama: Kanker paru-paru, stadium akhir. 

Anwar kemudian menyalahkan orang-orang yang merokok di sekitarnya. Mungkin mereka lah yang membuat penyakit terkutuk ini tumbuh pelan-pelan di dalam dadanya. Kenapa harus ia? Kenapa bukan mereka? Dan kenapa harus sekarang? Ia baru saja pindah dari Indonesia bersama istrinya untuk bekerja di sebuah perusahaan minyak di Texas. Kenapa tidak saat ia sudah tua dan memang sudah saatnya ia mati?

Entah sudah berapa dokter yang ia kunjungi, waktu yang ia habiskan di Internet dan orang-orang yang ia hubungi untuk mencari informasi tentang penyakit ini. Ia yakin bahwa ia bisa sembuh dari penyakit ini.

Puluhan literasi menyatakan bahwa kanker paru-paru adalah kanker dengan kemungkinan sembuh paling kecil. Tapi ia percaya bahwa ia berbeda dengan manusia lain: Ia spesial. Ia akan sembuh, ia yakin dengan itu.

Saat dokter mulai berkata bahwa kesempatannya hanya melalui kemoterapi itu pun dengan keberhasilan dibawah 25 persen, ia mulai mencoba segalanya: herbal, pengobatan alternatif, semuanya. Ia mulai kembali Sholat dan berdoa. Ia tak ingat kapan ini terakhir terjadi, tapi ia mulai menangis dalam doa-doanya. Ia hanya butuh sedikit waktu. Ia masih belum siap mati.

Mungkin Tuhan tak mendengar doanya. Mungkin Tuhan mendengarnya tapi tak mengabulkannya. Mungkin Tuhan menjawab doanya dengan jawaban yang tidak ia inginkan. Atau mungkin Tuhan tak benar-benar ada. Yang jelas beberapa bulan kemudian setelah divonis Kanker, ia tumbang dan sejak saat itu dirawat total di rumah sakit.

Dan ya itu tadi: waktu perlahan-lahan menghapus harapannya. Mungkin ia memang harus mati seperti ini: kanker. Ya Tuhan, siapa sangka? Seumur hidupnya ia selalu merasa bahwa ia akan mati setelah tua nanti dan tidak begini.

Para pengkhotbah selalu berkata bahwa umur adalah misteri dan kita bisa mati kapan saja. Ia selalu tersenyum dengan khutbah macam itu. Ia membenarkan tapi jauh di dasar hatinya ia selalu merasa bahwa itu bisa terjadi kepada siapa pun kecuali dirinya. Ia akan hidup dengan tenang, merawat anak, melihat cucu lalu mati setelah tua nanti.

Jika mengenang masa lalu dan membandingkannya dengan masa kini, yang tersisa biasanya hanya tangis atau senyum. Tapi saat ini ia ingin tersenyum sambil menangis. Harapannya hilang total. Ia kini hanya bisa pasrah


Gadis itu membanting piring berisi apel itu diatas kulkas kecil. Ia tampak murka. 

"Jangan lagi berkata seperti itu!"

Suaranya keras dan menusuk. Wajahnya merah padam. Ia menatap laki-laki itu. Laki-laki itu balik menatapnya. Pelan dan lembut. Anwar tersenyum. Senyum yang berbeda dengan senyum selama ini. Senyum terindah yang pernah dilakukannya seumur hidupnya. Senyum pasrah, senyum selamat tinggal.

Seluruh pertahanan yang dibangun gadis itu selama berbulan-bulan hancur. Ia memeluk anwar erat-erat. Gadis itu menangis terisak. Anwar mencoba menggerakkan tangannya untuk mencoba membelai pelan rambut gadis itu. Ditengah perjalanan, diperhatikannya tangannya: ini kah tanganku sekarang? Sementara semakin lama air mata gadis itu perlahan semakin membasahi baju pasiennya.

Anwar membelai pelan rambutnya sambil menghela nafas pelan. Bukankah aku yang harusnya menangis?

***

Musim dingin akhirnya benar-benar berhenti di Texas. Perlahan daun-daun baru bermunculan. Kemudian mereka tumbuh dan akan gugur, begitu saja berulang-ulang. Membosankan.

Tentang Anwar, kini hanya sedikit orang yang mengingat ceritanya. Dan beberapa puluh tahun lagi mungkin sudah tak ada yang ingat lagi sama sekali tentang ia.

Mungkin dihadapan Tuhan, kita dan daun sama saja dengan alasan yang hanya Tuhan tahu. Mungkin juga berbeda dengan alasan yang juga cuma Ia tahu. Atau mungkin tak pernah ada Tuhan, dan kita adalah daun-daun dari sebuah pohon besar. Aku tak tahu. Siapa yang tahu?

Jumat, 28 Februari 2014

Revolver

"Kapan kamu terakhir pulang, Malik?"

"Anjing kau Fran!"

Kemudian tawa pecah. Di luar mungkin masih pukul sembilan malam tapi suasana ruang tamu itu seperti pukul dua pagi. Lain waktu mungkin Malik bisa saja bersumpah ia samar-samar mendengar kokok ayam.

"Kita tak harus disini." Malik berkata pelan, tajam. Seperti biasa. Fran membalas dengan angguk. Ia sempat membuka mulut untuk mengatakan sesuatu sebelum diurungkan niatnya. Jam dinding berdetak pelan. Sunyi hadir beberapa lama untuk mereka.

"Kamu tahu, pertanyaan kapan terakhir pulang bukan pertanyaan yang kubayangkan muncul pertama kali dari mulutmu."

Fran kemudian menggeleng tertawa sendiri. Kawannya ini selalu tahu bagaimana membuka pembicaraan. Tapi entah kenapa ia sedang tak ingin bicara. Dan bukankah ini rumahnya?

Ia bermaksud menghidangkan wiski sebelum ingat bahwa temannya tak minum minuman keras. Diusapnya wajahnya pelan. Baru beberapa menit sejak ia membuka gerbang rumahnya untuk Malik tapi waktu terasa teramat cepat malam ini.

Tiba-tiba terdengar suara gelas pecah. Fran dan Malik mendadak berdiri. Wajah Fran berubah pucat pasi, Malik hanya diam. Telapak tangannya berkeringat saat ia mengeluarkan reuolver kecil dari balik jaketnya.


"Maaf kawan..." ujarnya pelan. "Sungguh, maaf..."

Sembilan bulan bukan waktu yang singkat untuk membiarkan sesosok makhluk asing hinggap di rahim seseorang, menghisap darah dan kemudian dibesarkan baik-baik. Belum lagi kalau kamu harus menghitung biaya untuk bajunya, susunya, makanannya, semuanya. 

Nanti ia akan besar. Kamu harus mencarikannya sekolah yang baik, memberinya bekal dan merapikan bajunya baik-baik saat ia berangkat ke sekolah. Kamu bisa diam-diam menyaksikannya dari jauh memimpin baris berbaris dan menangis bangga. Lucu, kamu akan ingat dulu kamu pernah melakukan hal yang sama namun tak sebahagia melihat anakmu melakukannya.

Waktu kadang terlalu cepat sampai kadang kamu merasa bahwa sebenarnya ia tak ada. Anakmu tumbuh besar, ia lulus sekolah dan kuliah. Masih tajam diingatanmu tentang betapa bahagianya kamu melihat anakmu membelikanmu kemeja baru dengan gaji pertamanya. 

Dan semua itu berlangsung cepat. Kadang tak masuk akal membandingkan tentang sulitnya membesarkan seorang manusia dengan menghilangkan nyawanya. Terjatuh dari tangga, kecelakaan, penyakit, sudah. Begitu saja.

Seperti saat ini. Sepersekian detik setelah peluru meluncur, Malik menyesal. Ia tak sadar saat ia tarik pelatuk, air matanya menetes sedikit. Fran hanya membelalak tak percaya. Seluruh waktu mendadak berhenti namun ia tak bisa apa-apa. Dan tepat saat peluru ada diantara dahi dan tengkorak belakangnya, ia tak merasakan apa-apa lagi.

Malik diam. Darah mengalir cepat menyentuh kakinya. Ia menangis, sungguh ia menangis. Ia tak percaya ia sudah membunuh seseorang. Secepat itu. Semudah itu.

Malik kemudian muntah

Kamis, 06 Februari 2014

Desember {Part 1}

Belakangan ini diam-diam aku berpikir apa yang akan terjadi jika aku terlahir sebagai Desember. Tapi kalau kupikir-pikir lagi untuk apa aku berpikir seperti itu?

Setengah jam sebelum makan siang tiba-tiba telepon genggamku berdering. Andai bukan istriku yang menelepon, sudah kupastikan tidak akan aku acuhkan sama sekali telepon itu. Mana ada orang yang ingin diganggu saat hampir waktu makan siang.

"Halo?", sapaku singkat.

Diseberang terdengar suara istriku. Tidak riang, tidak menggoda, tidak seperti biasanya. Samar-samar kudengar suaranya membersihkan lendir dari hidung. Aku tak yakin apakah saat tadi pagi kutinggalkan ia sedang pilek.

"Danar," ia menyapaku pelan. Aku bisa dengar suaranya terbata-bata menahan tangis. Ah, jadi ia menangis rupanya.

"Ibu meninggal." ujarnya singkat.

Aku terdiam. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku bisa melihat meja kerjaku penuh dengan tumpukan kertas dan dokumen kerja. Aku sudah berencana makan di sebuah restoran siang ini dengan beberapa teman dan mendadak selera makanku hilang.

"Ibu siapa?"

"Ibumu, Sayang."

Tanpa sadar aku mengarahkan tangan kiriku menutup mulut. Wajahku terasa panas dan memerah. Berani taruhan, apabila aku bercermin aku akan tampak seperti udang rebus. Aku ingin menangis tapi tak bisa.

Kutimbang-timbang pekerjaanku hari ini. Hampir semua sudah selesai, namun jam 2 nanti aku ada rapat. Rapat bodoh sebenarnya, Bos baruku hanya ingin tahu perkembangan proyek baru yang sedang aku handle. Kenapa aku bilang bodoh? Karena proyek ini baru dimulai hari ini. Mana ada orang tolol yang membuat rapat perkembangan proyek yang baru dimulai hari yang sama? 

"Baik, aku akan pulang."

Beberapa menit kemudian berlangsung dengan cepat. Aku tak ingat dengan pasti, yang jelas tahu-tahu aku sudah menyetir di dalam mobil 15 menit kemudian. Samar-samar aku ingat tatapan iba bosku setelah meminta izin pulang, wajah teman-teman kerjaku, dan ekspresi heran satpam di parkiran. Aku tak peduli. Aku hanya ingin pulang.

***

Sampai di rumah istriku memelukku. Ia menangis sesengukkan. Aku mencoba menenangkannya. Lucu sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, bukankah Ibuku yang meninggal tapi kenapa pula ia yang menangis? Lantas kenapa pula aku yang menghiburnya? Dan pertanyaan yang lebih penting: kenapa pula aku tak menangis?

Aku bahkan tak menangis sepanjang perjalanan pulang. Kalau kuingat-ingat lagi, aku tak ingat sama sekali aku menyetir mobil selama pulang. Mungkin salah satu dari kalian pernah menyetir setengah sadar dalam keadaan mengantuk dan tiba-tiba kalian sudah sampai tempat tujuan kalian ? Perasaanku saat itu kurang lebih sama. 

Di perjalanan aku mencoba memikirkan dan mencerna semuanya. Ibuku meninggal? Benarkah? Tapi mana mungkin istriku berbohong? Atau apa mungkin istriku berbohong? Tanggal berapa sekarang? 1 April kah? Tapi walaupun memang sekarang 1 April, aku rasa berbohong tentang ibuku meninggal sudah sangat keterlaluan sebagai lelucuon. Jadi Ibuku benar-benar meninggal? Bagaimana ibuku meninggal?

Aku memeluk istriku sembari berjalan dan mengarahkannya ke meja makan. Setelah kupastikan ia duduk dengan tenang, aku berjalan ke dapur aku memikirkan mana yang lebih baik untuknya: teh atau air putih? Sejujurnya aku malas harus memanaskan air, menyeduh teh dan mengambil cangkir. Jadi, air putih? Tentu saja air putih.

Istriku mengambil beberapa nafas. Sedetik kemudian ia mulai bercerita. Panjang. Aku tak terlalu menyimak. Aku tahu ini terdengar aneh, tapi di kepalaku terlalu banyak pertanyaaan yang membutuhkan jawaban dan cerita istriku hanya menjawab beberapa pertanyaan itu.

Aku tak perlu tahu sedang akan memasak apa ia saat ayahku menelepon. Terlebih lagi aku tak perlu diingatkan tentang sudah hampir setahun aku dan ayahku tak saling bertegur sapa jadi ia cukup heran saat ayahku meneleponnya. Lalu apa perlu aku tahu kalau ia sempat kebingungan meneleponku karena pulsanya habis?

"Ibu meninggal karena apa?" desakku sedikit bosan dengan basa-basi ceritanya.

"Entahlah." jawabnya. "Aku lupa menanyakan..."

Ah tentu saja, gumamku dalam hati. Pada akhirnya hampir tak ada jawaban bagi pertanyaan-pertanyaanku.

"Ayo berkemas, kita akan pergi ke Surabaya."

***

Sabtu, 18 Januari 2014

Bulan madu

"Kapan terakhir kali kita keluar berdua saja?"

Suaramu jernih terdengar. Aku hanya tertawa. Dari jauh pelan-pelan awan hitam terlihat mulai menggelayut diatas kita. Aku rasa hujan segera tiba. Haruskah kita pulang?"

Kamu tetap saja duduk diatas bangku taman tak terpengaruh dengan cuaca. Aku harap kamu mau menoleh keatas sebentar saja sehingga kamu sadar bahwa kita sudah seharusnya pergi sejak tadi. Tapi tidak. Matamu hanya memperhatikanku.

Lama-lama terasa juga aliran darah mulai merayap ke wajahku. Laki-laki mana yang bisa tak salah tingkah jika diperhatikan gadis secantik dirimu? Hei, sejak kapan aku berjalan bersama gadis secantik dirimu?

"...empat minggu lalu? Aku juga tak begitu yakin.." jawabku pelan.

Kamu kemudian berhenti menatapku dan mulai menatap seberang. Tak kamu perhatikan orang-orang yang lalu lalang di sekitar kita. Kamu hanya mencoba meraih masa lalu baik-baik dan kemudian membagikannya untukku.

"Empat minggu lalu..." gumammu pelan. "Toko kaset? Ataukah waktu kamu terpaksa harus meminjam toilet ke bengkel?"

Aku tertawa. Aku tak menyangka kamu masih ingat saat aku terburu-buru keluar dari mobil dan terpaksa meminjam toilet di sebuah bengkel. Mungkin seharusnya tak kumakan sop yang tersisa di kulkas semalam sebelum kita pergi itu.

"Ya."

"Ya yang mana?"

"Toilet."

Kemudian kamu tersenyum. Aku tersenyum. Kemudian kamu berkata pelan,

"Di kencan kita yang berikutnya, ingatkan aku bahwa kencan kita sebelumnya adalah di sebuah taman. Lalu kamu menyatakan cinta padaku."

Wajahku merah padam. Aku tersenyum dan mengangguk.

"Tapi kupikir-pikir lagi." ujarmu tiba-tiba.

"Mana pernah bisa aku lupa kamu bilang cinta padaku?" lanjutmu. "Mungkin di masa depan aku bisa lupa dengan kencan-kencan kita. Aku mungkin lupa dengan kaus dan sepatu apa yang kau gunakan. Aku bisa lupa makanan apa yang kita makan. Aku bisa saja lupa bahwa aku cinta padamu. Tapi aku tak pernah lupa bahwa pada suatu taman kamu pernah bilang kamu cinta padaku."

Aku hanya terdiam. Ada bagian yang tak mengerti dari kalimatmu yang membuatku sedikit merinding.

"Pulang?" ajakku.

"Ayo."

Selasa, 07 Januari 2014

Di taman

"Mungkin kita memang harus seperti ini," ujarmu.

Aku kemudian hanya menggeleng dan melihat kemana saja. Aku benar-benar tak tahu harus berkata apa. Aku ingin pergi sebenarnya. Tapi pergi kemana?

"Omong kosong," jawabku singkat.

Kamu kemudian yang ganti diam. Matamu membulat dan samar-samar aku melihat air mata di sudut matamu. Ah bangsat, air mata yang sama yang selalu membuatku tak mampu lebih jauh memaksamu.

Kita tak pernah tahu darimana angin berada. Aku ingat saat SD dulu dikatakan bahwa angin tercipta karena perbedaan suhu. Walau ragu, mungkin ada tempat lain yang lebih dingin dibandingkan dengan taman ini sehingga angin berhembus. Atau lebih panas? Ah, aku lupa. Aku tak peduli.

Angin tak berani mengganggu dan hanya diam-diam hilir mudik di sekitar kita. Aku menatapmu pelan-pelan. Kamu mencoba merias muka dengan senyum. Aku ingin tertawa melihat wajahmu yang kacau: tangis bercampur senyum. Tapi mana bisa aku tertawa saat melihat wajahmu yang sedemikian cantik?

"...mungkin saja ..." tapi tak kau teruskan ucapanmu.

"Mungkin apa?"

Kamu kemudian menggeleng. Aku mendesah pelan. Ingin sekali rasanya kulupakan kehadiranmu sama sekali dan kemudian kubakar sebatang rokok sambil menikmati taman ini. Kupikir-pikir sebenarnya taman ini tak buruk juga. Pepohonan disana-sini, orang-orang tua yang sedang berjogging, anak-anak muda yang saling bercanda. Di seluruh kebahagiaan yang tampak disana-sini kehadiran kita berdua di kursi ini tampak bagai anomali kesedihan.

Aku diam-diam berpikir mungkin lain kali aku harus datang kesini dengan suasana hati lain. Berani taruhan, aku bisa diam saja disini selama berjam-jam tanpa bosan. Kontras dengan sekarang. Aku baru 10 menit bersamamu tapi aku sudah muak. Benar, aku muak.

Senyum kemudian tersungging di bibirku. Dan aku berani bersumpah aku tak mengerti kenapa aku tersenyum. Mungkin karena aku sudah mengerti tentang perasaanku padamu, mungkin aku sudah mengerti tentang perasaanmu padaku, mungkin juga karena aku sudah tak peduli tentang perasaan kita antara satu sama lain. Atau mungkin--dan kupikir ini adalah jawaban yang paling benar- karena aku hanya ingin tersenyum saja. Sederhana.

Aku kemudian berdiri pelan hendak pergi. Kamu nampak kaget dan menatapku pelan. Kemudian kamu bertanya,

"Hendak kemana?"

"Pergi." jawabku singkat.

Kamu semakin nampak tak percaya.

"Lalu....kita?"

Kuhentikan langkahku pelan. Aku menghela nafas kemudian berkata,

"Bukankah kamu bilang kita memang harus begini? Ya sudah, aku pergi. Untuk apa duduk lebih lama lagi?"

Air matamu keluar lagi. Lucu memang betapa air matamu yang sampai beberapa menit lalu berhasil membuatku takluk tak berarti apa-apa lagi kini. Aku justru muak dan bosan melihat tangisanmu. Aku ingin menempelengmu walau kuredam setengah mati keinginan itu.

"Sudah, begitu saja?" tanyamu.

Aih, keparat satu ini masih juga mencoba peruntungannya.

"Lalu mau apalagi? Aih nona, aku sudah berikan semuanya untukmu. Aku mencintaimu setengah mati, sungguh. Telepon-telepon tengah malammu sambil terisak? Mana pernah kutolak walau aku selalu lembur. Cerita-ceritamu yang kau ceritakan? Mana pernah aku berkata cukup walau ceritamu sungguh membosankan. Aku menunggumu bertahun-tahun, kemudian kamu begitu saja mencintai orang lain. Kupikir-pikir lagi tolol juga kenapa pula aku mengajakmu ke taman ini untuk memberi tahumu perasaanku walau sebenarnya aku tahu perasaanmu padaku. Selamat sore."

Aku kemudian melangkah meninggalkanmu. Dan benar saja, semakin lama aku berjalan menyusuri taman ini semakin kusadari bahwa taman ini memang benar-benar indah.