Minggu, 02 Maret 2014

Musim dingin di Texas

Belakangan diperhatikannya bahwa semakin banyak daun gugur yang menunggu didepan pintu. Mungkin tampak aneh tapi ia jadi sering bertanya apa yang terjadi jika ia terlahir sebagai daun.

Lahir di musim semi, tumbuh lalu teman-temannya mulai terjatuh saat musim gugur. Ia tak bisa tahu pasti kapan ia akan jatuh, Mungkin hari pertama musim gugur, tiga hari berikutnya, atau bisa saja ia gugur pada musim dingin. Tidak ada yang tahu.

Kemudian saat musim dingin jika memang masih ada darinya yang tersisa, ia akan mulai terkoyak pelan dihajar waktu. Tak sempat mengerang karena memang daun tak punya suara. Ia takkan menyalahkan pohon, justru ia akan berterima kasih karena sudah membiarkannya hidup walau sesaat.

Tapi kemudian saat ia habis tinggal kerangka, ia akan berandai-andai pula apa yang terjadi jika ia tak harus gugur saat itu. Ia mungkin hanya akan merenggang beberapa hari, minggu, musim, atau tahun. Atau mungkin jika ia beruntung ia bisa hidup selama pohon itu hidup. Dan saat pohon itu mati, mungkin saat itu pula ia hancur.

Daun yang jatuh tak sempat berandai-andai semacam itu. Jadi mungkin kekhawatiran sehelai daun hanya hidup di pikirannya saja. Ia bersyukur lahir bukan sebagai daun. Pikiran itu sempat hidup beberapa saat sampai ia bergidik: apa mungkin daun juga bersyukur tidak hidup sebagai manusia?

Hidup sembilan bulan sebagai parasit, kemudian lahir dan belasan tahun menjadi tanggungan induknya. Lalu ia bekerja dan mendadak kehidupan menjadi rutinitas yang membosankan. Tahu-tahu ia beranak pinak, lantas mati. Begitu saja.

Daun mungkin bersyukur ia tidak menjadi manusia dengan alasan yang hanya daun mengerti. Alasan yang sama kenapa ia bersyukur tidak menjadi daun dengan alasan yang manusia mengerti. Mungkin alasan mereka sama dengan bahasa mereka sendiri, mungkin juga tidak. Atau mungkin tidak ada hidup yang lebih baik antara semua makhluk. Aku tak tahu.

***

Pintu ruang inap 601 terbuka pelan. Samar-samar tercium aroma berbagai macam bunga tercampur menjadi satu. Mungkin karena ruangan itu tidak terlalu besar--kira-kira hanya 3x4 meter- lama-lama ruangan jadi terasa penuh dengan aroma.

Wanita yang baru masuk tadi lantas menaruh bunga di dalam vas yang sudah berhari-hari kosong. Tampak krisan, aster, dan beberapa jenis bunga lain. Ia kemudian melangkah pelan mengambil air dingin yang disimpannya di dalam kulkas kecil di samping kasur pasien untuk vas bunga itu.

Ia kemudian menatap sosok yang tergolek diatas kasur itu. Laki-laki muda. Seharusnya ia berusia 29 tahun Agustus ini tapi tak tampak sama sekali kegagahannya. Alih-alih otot tangan yang kekar, yang tersisa hanya otot yang terus mengecil karena jarang dipakai. Rambut hitamnya yang lebat, kini tampak menipis. Wajah persegi yang selalu dicintainya tampak semakin tirus. 

Tak terasa air matanya menetes perlahan. Ia hendak mengusapnya saat ia mendengar suara pelan, lirih, namun tegas:

"Kamu menangis?"

Cepat-cepat dibuang wajahnya sembaru mengusap air matanya dengan satu gerakan flamboyan. Ia kemudian menggeleng sambil berkata cepat,

"Menangis? Tidak." Ia kemudian lanjut berdusta, "Aku rasa alergi serbuk bungaku mulai menyerang."

Wanita itu kemudian perlahan mengambil air dingin dan mulai mengisi vas bunga. Setelah selesai ia melangkah pelan mengembalikannya ke kulkas kecil. Ia melempar senyum kepada pria itu. Senyum yang teramat sulit.

Siapa manusia yang takkan sedih melihat pemandangan macam itu? Laki-laki muda yang satu tahun lalu begitu perkasa mendadak serupa kerangka. Tapi ia tak bisa menangis dihadapanya. Oh, sungguh tidak.

"Kamu tak harus berbohong." Laki-laki itu berkata pelan. Matanya tajam memandang wanita itu. Cekungan boleh saja membuat wajahnya seperti tengkorak. Tapi sorot mata itu tak pernah berubah. Tegas, lugas, tanpa ampun.

"Tidak, sungguh. Sekarang sudah hampir bulan Maret. Sebentar lagi musim semi tiba dan musim dingin akan pergi. Bunga-bunga akan segera muncul."

Wanita itu tersenyum. Dalam hati ia tak percaya betapa lancarnya ia berdusta sekarang.

Laki-laki itu diam. Ia mengarahkan pandangan matanya ke jendela luar. Langit tampak cerah hari ini. Beberapa hari lalu sempat turun hujan namun kemudian cuaca menjadi panas. Minggu lalu bahkan sempat turun salju. Cuaca aneh seperti itu berlangsung sepanjang musim dingin kali ini.

Fort Worth hanya kota kecil di Texas. Tapi seperti kota-kota lain di Texas, musim dingin biasanya cukup hangat disini dibandingkan dengan negara bagian lain. Orang-orang bilang kamu beruntung jika dapat melihat salju disini, jadi bisa saja ia beruntung karena selama musim dingin disini ia sudah melihat salju tiga kali.

"Maret..." 

Laki-laki itu mendesah pelan. Sudah hampir enam bulan ia dirawat di rumah sakit ini. Wanita itu--istrinya, kemudian menarik kursi dan duduk disampingnya. Tangannya dengan lincah mulai mengupas Apel. 

Ia menggeleng pelan saat istrinya menawarkan apel yang sudah diirisnya dengan rapih itu. Istrinya memasang wajah kecut,

"Anwar, kamu harus makan. Sudah 2 hari ini kamu hanya minum air putih saja."

Anwar tersenyum. "Apa bedanya aku makan atau tidak..."

"...toh aku juga akan mati sebentar lagi."

Saat ia menjawab itu suaranya tampak lirih. Ia ingin menyangkal bahwa ia akan mati sebentar lagi tapi hari demi hari, keinginannya semakin lemah. Pisau waktu mengikis harapannya perlahan tapi pasti.

Pada awalnya ia tak percaya ia terkena Kanker Paru-paru.  Bagaimana bisa? Ia bahkan tak pernah merokok satu batang pun selama hidupnya. Ia pergi ke semua dokter di Fort Worth, jawaban mereka sama: Kanker paru-paru, stadium akhir. 

Anwar kemudian menyalahkan orang-orang yang merokok di sekitarnya. Mungkin mereka lah yang membuat penyakit terkutuk ini tumbuh pelan-pelan di dalam dadanya. Kenapa harus ia? Kenapa bukan mereka? Dan kenapa harus sekarang? Ia baru saja pindah dari Indonesia bersama istrinya untuk bekerja di sebuah perusahaan minyak di Texas. Kenapa tidak saat ia sudah tua dan memang sudah saatnya ia mati?

Entah sudah berapa dokter yang ia kunjungi, waktu yang ia habiskan di Internet dan orang-orang yang ia hubungi untuk mencari informasi tentang penyakit ini. Ia yakin bahwa ia bisa sembuh dari penyakit ini.

Puluhan literasi menyatakan bahwa kanker paru-paru adalah kanker dengan kemungkinan sembuh paling kecil. Tapi ia percaya bahwa ia berbeda dengan manusia lain: Ia spesial. Ia akan sembuh, ia yakin dengan itu.

Saat dokter mulai berkata bahwa kesempatannya hanya melalui kemoterapi itu pun dengan keberhasilan dibawah 25 persen, ia mulai mencoba segalanya: herbal, pengobatan alternatif, semuanya. Ia mulai kembali Sholat dan berdoa. Ia tak ingat kapan ini terakhir terjadi, tapi ia mulai menangis dalam doa-doanya. Ia hanya butuh sedikit waktu. Ia masih belum siap mati.

Mungkin Tuhan tak mendengar doanya. Mungkin Tuhan mendengarnya tapi tak mengabulkannya. Mungkin Tuhan menjawab doanya dengan jawaban yang tidak ia inginkan. Atau mungkin Tuhan tak benar-benar ada. Yang jelas beberapa bulan kemudian setelah divonis Kanker, ia tumbang dan sejak saat itu dirawat total di rumah sakit.

Dan ya itu tadi: waktu perlahan-lahan menghapus harapannya. Mungkin ia memang harus mati seperti ini: kanker. Ya Tuhan, siapa sangka? Seumur hidupnya ia selalu merasa bahwa ia akan mati setelah tua nanti dan tidak begini.

Para pengkhotbah selalu berkata bahwa umur adalah misteri dan kita bisa mati kapan saja. Ia selalu tersenyum dengan khutbah macam itu. Ia membenarkan tapi jauh di dasar hatinya ia selalu merasa bahwa itu bisa terjadi kepada siapa pun kecuali dirinya. Ia akan hidup dengan tenang, merawat anak, melihat cucu lalu mati setelah tua nanti.

Jika mengenang masa lalu dan membandingkannya dengan masa kini, yang tersisa biasanya hanya tangis atau senyum. Tapi saat ini ia ingin tersenyum sambil menangis. Harapannya hilang total. Ia kini hanya bisa pasrah


Gadis itu membanting piring berisi apel itu diatas kulkas kecil. Ia tampak murka. 

"Jangan lagi berkata seperti itu!"

Suaranya keras dan menusuk. Wajahnya merah padam. Ia menatap laki-laki itu. Laki-laki itu balik menatapnya. Pelan dan lembut. Anwar tersenyum. Senyum yang berbeda dengan senyum selama ini. Senyum terindah yang pernah dilakukannya seumur hidupnya. Senyum pasrah, senyum selamat tinggal.

Seluruh pertahanan yang dibangun gadis itu selama berbulan-bulan hancur. Ia memeluk anwar erat-erat. Gadis itu menangis terisak. Anwar mencoba menggerakkan tangannya untuk mencoba membelai pelan rambut gadis itu. Ditengah perjalanan, diperhatikannya tangannya: ini kah tanganku sekarang? Sementara semakin lama air mata gadis itu perlahan semakin membasahi baju pasiennya.

Anwar membelai pelan rambutnya sambil menghela nafas pelan. Bukankah aku yang harusnya menangis?

***

Musim dingin akhirnya benar-benar berhenti di Texas. Perlahan daun-daun baru bermunculan. Kemudian mereka tumbuh dan akan gugur, begitu saja berulang-ulang. Membosankan.

Tentang Anwar, kini hanya sedikit orang yang mengingat ceritanya. Dan beberapa puluh tahun lagi mungkin sudah tak ada yang ingat lagi sama sekali tentang ia.

Mungkin dihadapan Tuhan, kita dan daun sama saja dengan alasan yang hanya Tuhan tahu. Mungkin juga berbeda dengan alasan yang juga cuma Ia tahu. Atau mungkin tak pernah ada Tuhan, dan kita adalah daun-daun dari sebuah pohon besar. Aku tak tahu. Siapa yang tahu?