Senin, 04 Maret 2013

Anakmu

Luwak. Anakmu. Semalam kamu terbangun sesaat dan menatap stap kamar. Kamu angkat jemarimu ke depan mata dan kamu pikir jemarimu adalah tiang dan kuku-kukumu adalah benderanya. Dan udara kamar yang menusuk tulang serupa angin.
Kamu mencoba terbangun namun sayang matamu sudah terbuka semenjak tadi. Ironis, karena pada akhirnya kamu  tak tahu: mimpikah kamu atau sedang terbangun?

***


"Dalam sebelah matamu bernaung aku."

Kamu tiba-tiba mengeluarkan kata-kata itu saat sedang duduk berdua menghadap batu. Aku bingung bukan kepalang. Bukan karena cuaca, bukan karena batu, atau bahkan karena kata-katamu. Yang membuatku heran adalah pada akhirnya kamu berbicara.

Tiga jam kita habiskan berkendara. Aku berani bersumpah setengah mati betapa aku benci kesunyian yang kamu tinggalkan. Namun kurasa sunyi yang duduk diantara kita akan lebih manis daripada suara bantingan pita suara yang menghancurkan telinga. Aku tak bisa protes apa-apa. Aku menyetir sambil sesekali bersenandung mengikuti alunan lagu di radio.

Kamu tampak tak terganggu dengan nyanyianku. Aku tak peduli sebenarnya andaikan kamu terganggu sekalipun. Ah tidak, maksudku aku tak peduli dengan apa pun yang kamu lakukan saat ini padaku. Aku muak berkendara berjam-jam denganmu namun apabila itu satu-satunya yang perlu kulakukan terakhir kali untuk berpisah denganmu, hei kenapa tidak?

Aku antarkan kamu ke rumah orang tuamu di Bandung. Mungkin Jakarta terlalu kejam bagimu, namun tidak bagiku. Aku sendiri tak pernah tahu apa perbedaan antara dua kota itu selain cuacanya. Dan kemacetannya tentu saja. Tapi saat kamu terlihat semakin lelah dari hari ke hari dengan wajah pucat setiap kutemui pulang kamu akhirnya menyerah.

Aku diam saja saat itu. Aku mengerti suatu saat akan begini namun tak pernah siap apabila memang pada akhirnya benar-benar terjadi. Aku mencoba menyulam kembali hatimu namun benang-benang itu bukan hanya tentang kota. Kamu benci aku. Aku menggeleng. Lalu lebih tersayat lagi saat kemudian kamu menangis dalam-dalam. Bukankah aku yang semestinya menangis lebih kencang?

Kita berhenti di kilometer 97. Mobil kutepikan lalu mesin kumatikan. Kamu turun lebih dahulu. Angin memainkan pelan rambutmu dan dalam hati aku ingat kenapa aku pernah mencintaimu. Pernah? Mungkin sampai kini pun aku masih mencintaimu. Siapa yang benar-benar tahu tentang perasaan?

Lalu kamu berkata seperti itu: "Dalam sebelah matamu bernaung aku." Aku tak mengerti apa artinya sama sekali. Aku selalu lemah dalam kata dan puisi. Sedang kamu menjadikan kata-kata yang keluar dari mulutmu serupa bait dan sajak. 

Sesaat kita diam. Lambat-lambat terdengar kata selanjutnya dari mulutmu. Pelan namun tajam,

"Aku hamil anakmu."


***
Kamu ingat cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari yang kamu lihat sehari-hari. Kamu ingat merah yang semburat dari bangku sebelah kirimu. Kamu ingat teriakan dan bunyi karet yang terbakar. Kamu ingat semua namun tak yakin apa itu benar-benar terjadi.

Kamu ingat pula tentang luwak yang mengunyah arbei dan memuntahkan biji-biji kopi. Luwak yang sama yang hinggap di kepalamu dan menghisap sumsum dari tulang belakangmu. Masihkah kamu layak mempercayai ingatanmu?

Kamu ingat pula tangisanmu yang pecah siang itu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar