Kamis, 14 Januari 2016

Jakarta Noir

"Kamu tahu, tidak banyak yang bisa mengalahkan pesona seorang  wanita cantik dengan sedikit kegilaan?" 

Ia hanya tersenyum setelah aku mengatakan kalimat itu. Ia menatap mataku tajam dan aku membalas tatapannya dengan rasa kagum diam-diam. Aku tidak berdusta saat mengatakan itu. Dihadapanku yang sedang berdiri bersandar di meja kerjaku, berdiri sesosok wanita cantik usia 30-an, dengan rambut coklat tergelung indah dengan lipstik dan gaun merah sepucat mawar. 

Semua dandanannya akan sempurna jika ia adalah seorang wanita yang sudah siap untuk diajak berkencan dan makan malam di sebuah restoran mewah bintang lima di Jakarta andaikan kamu bisa melupakan ia menondongkan revolver kecil yang ditodongkan tepat beberapa meter dari wajahku. 

Satu menit, dua menit, tiga menit berlalu. Beberapa menit yang terasa seperti beberapa abad. Aku merogoh saku kemejaku, ia mengangkat alisnya terkejut kemudian berkata,

"Jangan melakukan tindakan bodoh..."

Aku tertawa kecil. 


"Nona, kita baru bertemu beberapa belas menit tapi semestinya kamu tahu aku tidak sebodoh itu."

Kukeluarkan sebungkus kretek dan korek lalu mulai kubakar sebatang. Kuhembuskan asap ke udara sekitar ruangan kerjaku yang tidak begitu besar ini. Aku tak pernah yakin berapa besarnya, induk semangku berkata 4x6 meter tapi aku berani bersumpah ruangan ini lebih kecil daripada klaimnya. 

Aku menatap wajahnya lagi. Aku tawarkan dengan ringan kretekku, ia menggeleng.

"Merokok itu akan membunuhmu, tahu..." ujarnya tenang.

Aku tertawa kecil lagi. Ia berbicara tentang bahaya merokok sekarang?

"Nona, tentu saja aku setuju. Setelah kebahagaiaan-kebahagiaan kecil yang benda ini berikan, hutangku padanya akan lunas setelah bocah kecil ini nantinya akan membunuhku setelah menyiksaku pelan-pelan. Tapi menurutku lebih wajar kalau sekarang aku lebih mengkhawatirkan benda kecil yang ada di jemarimu saat ini."

Ia membalas jawabanku dengan senyum dan gelengan kecil. Aku menarik nafas dan kurasakan debu-debu di ruangan bercampur dengan sisa nikotin di paru-paruku. 

Aku tak pernah benar-benar yakin apa yang baru saja terjadi. Baru satu jam lalu aku berjalan kaki meninggalkan rumah menuju kantorku. Kota yang sama, jalanan yang sama. Lalu di depan rukoku aku bertemu dengan wanita ini. Salah satu wanita tercantik yang pernah kutemui dalam hidupku. Ah aku ralat, wanita tercantik yang pernah kutemui dalam hidupku. 

Dan kini ia dihadapanku menodongkan revolver, mengatakan bahwa ia akan membunuhku sedang aku kini menghisap kretek. Cerita yang singkat, hidup yang singkat.

"Ah, tuan rumah macam apa aku. Nona mau minum? Sayang aku tak ada whiskey atau bourbon. Teh darjeeling mungkin?"

Ia membalas tawaranku dengan gelengan pelan. Ia kemudian melangkah perlahan ke arahku. Setiap langkah yang ia ambil seperti langkah algojo yang bersiap menebas pedangnya ke pesakitan. Tiga langkah dariku ia berhenti lalu bertanya,

"Ada permintaan terakhir?"

Aku mengangkat bahu. Tiga puluh empat tahun usiaku saat ini, kalau aku punya dan pernah punya mimpi atau keinginan, bukankah semua sudah kumiliki saat ini? Aku memandang ke atap ruangan lalu kembali menatap ke wajahnya. Kupandang sekeliling ruangan lalu kembali menatap wajahnya. Ah, andaikan tak pernah ada omong kosong ini mungkin aku bisa duduk berdua dengan wanita ini di kafe sambil berbicara omong kosong tentang kemarin dan hari ini.

"Well...hidup ini singkat dan aku hidup dengan cukup baik. Tapi aku selalu penasaran bagaimana rasanya mencium bibir seorang wanita dengan lipstik dan gaun semerah darah..."

Ia sadar dengan permintaanku. Aku matikan kretekku di asbak di atas meja kerjaku yang penuh dengan puntung rokok sisa malam-malam kemarin lalu mulai berjalan pelan ke arahnya. Ia tetap mengacungkan revolvernya kearahku. Dengan tangan kirku, perlahan kupegang telapak tangan kanannya yang memegang revolver dan mengarahkannya lambat-lambat tepat ke jantungku. Lalu aku berjalan semakin dekat kearahnya.

"Arahkan ke jantung dan doakan aku mendapat kematian yang cepat."

Hanya ada beberapa senti tersisa antara wajahku dengannya. Aroma parfum yang paling memabukkan pun takkan bisa mengalahkan aroma wanita ini. Udara terasa panas dan bisa aku rasakan jantungku berdebar kencang. Kurasakan pula tangannya yang memegang revolver mulai gemetar. Aku menatap wajahnya dan dari seluruh fitur wajahnya, baru kusadari betapa indah matanya. Coklat? Hitam? Hazelnut? Bagaimana kalau seluruh warna sekaligus?

Aku miringkan wajahku dan kudekatkan bibirku dengan bibirnya. Ia menutup mata juga akhirnya dan memajukan wajahnya pula untuk menutup gerakan kecil kita dengan kecupan. Manis, ratusan kali lebih manis dari ciuman pertamaku. 

Dengan satu gerakan cepat kupelintir tangan kanannya yang memegang revolver dan kuambil alih revolvernya yang terlepas dengan tangan kanan. Ia tampak terkejut. Aku tersenyum. Kuarahkan moncong ke kepalanya. Telunjuk kiriku menyentuh bibirku pelan,

"Ssshh..."

Dor! Dor! Dua kali kutembakan peluru menembus kepalanya dan tubuhnya jatuh terlentang ke belakang. Baru beberapa detik lalu pemilik bibir semanis ribuan madu ini kukecup dan kini serpihan-serpihan wajahnya berhamburan di karpet ruangan kerjaku. Aku melihat kekacauan itu sambil menggeleng.

"Nona, jika kamu benar-benar ingin membunuh seseorang tak perlu ada basa-basi. Dialog indah hanya ada di film dan novel. "

"Well tapi kupikir-pikir lagi, dialog indah akan selalu lebih menarik dan menyenangkan daripada monolog sunyi. Lihat, kini aku berbicara sendiri dengan mayat!" ujarku sambil tertawa.

Aku melihat lagi sesosok itu dan kupenjamkan mata. Kutata pelan-pelan memoriku tentang wanita ini dan kuyakinkan bahwa yang akan kuingat tentang wanita ini adalah wajah seindah ratusan mentari dan mata setajam halilintar. Ia tidak akan tinggal di dalam memori sebagai mayat tak berkepala dengan wajah yang hancur dimana-mana.