Pikiran
pertama yang hinggap di pikirannya saat pertama kali turun dari pesawat adalah
betapa tak ada bedanya antara Jakarta dengan Balikpapan. Namun saat keluar dari
naungan atap bandara dan merasakan panasnya matahari baru ia benar-benar sadar
bahwa ia sudah tak ada di Jakarta lagi.
Sudah beberapa
menit berlalu sejak ia mengambil kopernya. Ia bersyukur tak perlu menunggu
lama. Baru lewat tiga koper saat ia melihat koper Ellenya dari kejauhan. Ia
melirik jam yang tergantung di atas jadwal kedatangan pesawat. Ia
mengerenyitkan alisnya sesaat sebelum akhirnya ingat untuk menyetel jamnya maju
satu jam. Ia kini berada di masa depan.
Ia tampik
halus tawaran taksi dari orang-orang yang tampak sama terganggunya dengan dirinya
terhadap panas. Ia mengeluarkan telepon dan mencoba mengingat-ingat suatu nama.
Pembicaraan singkat terjadi di telepon kemudian ia melangkah ringan ke anjungan
naik-turun penumpang.
Dirogohnya
saku dan dikeluarkan sebatang rokok. Ia mengorek-ngorek saku jaket untuk
mencari korek. Ia tersenyum saat
mengingat di Soekarno-Hatta para petugas bagasi mengetahui bahwa ia membawa
korek namun membiarkannya saja. Dibakarnya lalu dihisap kuat-kuat rokoknya dan
dihembusnya ke udara Balikpapan. Asap pertama dari jutaan asap yang akan dihembuskannya
di kota ini.
Dari sebelah
kanannya berjalan lambat mobil Innova baru kemudian berhenti tepat di depannya.
Jendela penumpang depannya terbuka dan suara supir terdengar lantang saat
menanyakan apakah ia Aldo. Ia mengangguk. Dimatikannya rokok yang sebenarnya
baru dihisap sesaat itu. Dimasukkannya barang ke bagasi lantas duduk di bangku
depan.
Ia mengantuk.
Sungguh mengantuk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar