Sabtu, 02 Maret 2013

Balikpapan

Pikiran pertama yang hinggap di pikirannya saat pertama kali turun dari pesawat adalah betapa tak ada bedanya antara Jakarta dengan Balikpapan. Namun saat keluar dari naungan atap bandara dan merasakan panasnya matahari baru ia benar-benar sadar bahwa ia sudah tak ada di Jakarta lagi.
Sudah beberapa menit berlalu sejak ia mengambil kopernya. Ia bersyukur tak perlu menunggu lama. Baru lewat tiga koper saat ia melihat koper Ellenya dari kejauhan. Ia melirik jam yang tergantung di atas jadwal kedatangan pesawat. Ia mengerenyitkan alisnya sesaat sebelum akhirnya ingat untuk menyetel jamnya maju satu jam. Ia kini berada di masa depan.
Ia tampik halus tawaran taksi dari orang-orang yang tampak sama terganggunya dengan dirinya terhadap panas. Ia mengeluarkan telepon dan mencoba mengingat-ingat suatu nama. Pembicaraan singkat terjadi di telepon kemudian ia melangkah ringan ke anjungan naik-turun penumpang.
Dirogohnya saku dan dikeluarkan sebatang rokok. Ia mengorek-ngorek saku jaket untuk mencari  korek. Ia tersenyum saat mengingat di Soekarno-Hatta para petugas bagasi mengetahui bahwa ia membawa korek namun membiarkannya saja. Dibakarnya lalu dihisap kuat-kuat rokoknya dan dihembusnya ke udara Balikpapan. Asap pertama dari jutaan asap yang akan dihembuskannya di kota ini.
Dari sebelah kanannya berjalan lambat mobil Innova baru kemudian berhenti tepat di depannya. Jendela penumpang depannya terbuka dan suara supir terdengar lantang saat menanyakan apakah ia Aldo. Ia mengangguk. Dimatikannya rokok yang sebenarnya baru dihisap sesaat itu. Dimasukkannya barang ke bagasi lantas duduk di bangku depan.
Ia mengantuk. Sungguh mengantuk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar