Selasa, 07 Januari 2014

Di taman

"Mungkin kita memang harus seperti ini," ujarmu.

Aku kemudian hanya menggeleng dan melihat kemana saja. Aku benar-benar tak tahu harus berkata apa. Aku ingin pergi sebenarnya. Tapi pergi kemana?

"Omong kosong," jawabku singkat.

Kamu kemudian yang ganti diam. Matamu membulat dan samar-samar aku melihat air mata di sudut matamu. Ah bangsat, air mata yang sama yang selalu membuatku tak mampu lebih jauh memaksamu.

Kita tak pernah tahu darimana angin berada. Aku ingat saat SD dulu dikatakan bahwa angin tercipta karena perbedaan suhu. Walau ragu, mungkin ada tempat lain yang lebih dingin dibandingkan dengan taman ini sehingga angin berhembus. Atau lebih panas? Ah, aku lupa. Aku tak peduli.

Angin tak berani mengganggu dan hanya diam-diam hilir mudik di sekitar kita. Aku menatapmu pelan-pelan. Kamu mencoba merias muka dengan senyum. Aku ingin tertawa melihat wajahmu yang kacau: tangis bercampur senyum. Tapi mana bisa aku tertawa saat melihat wajahmu yang sedemikian cantik?

"...mungkin saja ..." tapi tak kau teruskan ucapanmu.

"Mungkin apa?"

Kamu kemudian menggeleng. Aku mendesah pelan. Ingin sekali rasanya kulupakan kehadiranmu sama sekali dan kemudian kubakar sebatang rokok sambil menikmati taman ini. Kupikir-pikir sebenarnya taman ini tak buruk juga. Pepohonan disana-sini, orang-orang tua yang sedang berjogging, anak-anak muda yang saling bercanda. Di seluruh kebahagiaan yang tampak disana-sini kehadiran kita berdua di kursi ini tampak bagai anomali kesedihan.

Aku diam-diam berpikir mungkin lain kali aku harus datang kesini dengan suasana hati lain. Berani taruhan, aku bisa diam saja disini selama berjam-jam tanpa bosan. Kontras dengan sekarang. Aku baru 10 menit bersamamu tapi aku sudah muak. Benar, aku muak.

Senyum kemudian tersungging di bibirku. Dan aku berani bersumpah aku tak mengerti kenapa aku tersenyum. Mungkin karena aku sudah mengerti tentang perasaanku padamu, mungkin aku sudah mengerti tentang perasaanmu padaku, mungkin juga karena aku sudah tak peduli tentang perasaan kita antara satu sama lain. Atau mungkin--dan kupikir ini adalah jawaban yang paling benar- karena aku hanya ingin tersenyum saja. Sederhana.

Aku kemudian berdiri pelan hendak pergi. Kamu nampak kaget dan menatapku pelan. Kemudian kamu bertanya,

"Hendak kemana?"

"Pergi." jawabku singkat.

Kamu semakin nampak tak percaya.

"Lalu....kita?"

Kuhentikan langkahku pelan. Aku menghela nafas kemudian berkata,

"Bukankah kamu bilang kita memang harus begini? Ya sudah, aku pergi. Untuk apa duduk lebih lama lagi?"

Air matamu keluar lagi. Lucu memang betapa air matamu yang sampai beberapa menit lalu berhasil membuatku takluk tak berarti apa-apa lagi kini. Aku justru muak dan bosan melihat tangisanmu. Aku ingin menempelengmu walau kuredam setengah mati keinginan itu.

"Sudah, begitu saja?" tanyamu.

Aih, keparat satu ini masih juga mencoba peruntungannya.

"Lalu mau apalagi? Aih nona, aku sudah berikan semuanya untukmu. Aku mencintaimu setengah mati, sungguh. Telepon-telepon tengah malammu sambil terisak? Mana pernah kutolak walau aku selalu lembur. Cerita-ceritamu yang kau ceritakan? Mana pernah aku berkata cukup walau ceritamu sungguh membosankan. Aku menunggumu bertahun-tahun, kemudian kamu begitu saja mencintai orang lain. Kupikir-pikir lagi tolol juga kenapa pula aku mengajakmu ke taman ini untuk memberi tahumu perasaanku walau sebenarnya aku tahu perasaanmu padaku. Selamat sore."

Aku kemudian melangkah meninggalkanmu. Dan benar saja, semakin lama aku berjalan menyusuri taman ini semakin kusadari bahwa taman ini memang benar-benar indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar