"Kapan terakhir kali kita keluar berdua saja?"
Suaramu jernih terdengar. Aku hanya tertawa. Dari jauh pelan-pelan awan hitam terlihat mulai menggelayut diatas kita. Aku rasa hujan segera tiba. Haruskah kita pulang?"
Kamu tetap saja duduk diatas bangku taman tak terpengaruh dengan cuaca. Aku harap kamu mau menoleh keatas sebentar saja sehingga kamu sadar bahwa kita sudah seharusnya pergi sejak tadi. Tapi tidak. Matamu hanya memperhatikanku.
Lama-lama terasa juga aliran darah mulai merayap ke wajahku. Laki-laki mana yang bisa tak salah tingkah jika diperhatikan gadis secantik dirimu? Hei, sejak kapan aku berjalan bersama gadis secantik dirimu?
"...empat minggu lalu? Aku juga tak begitu yakin.." jawabku pelan.
Kamu kemudian berhenti menatapku dan mulai menatap seberang. Tak kamu perhatikan orang-orang yang lalu lalang di sekitar kita. Kamu hanya mencoba meraih masa lalu baik-baik dan kemudian membagikannya untukku.
"Empat minggu lalu..." gumammu pelan. "Toko kaset? Ataukah waktu kamu terpaksa harus meminjam toilet ke bengkel?"
Aku tertawa. Aku tak menyangka kamu masih ingat saat aku terburu-buru keluar dari mobil dan terpaksa meminjam toilet di sebuah bengkel. Mungkin seharusnya tak kumakan sop yang tersisa di kulkas semalam sebelum kita pergi itu.
"Ya."
"Ya yang mana?"
"Toilet."
Kemudian kamu tersenyum. Aku tersenyum. Kemudian kamu berkata pelan,
"Di kencan kita yang berikutnya, ingatkan aku bahwa kencan kita sebelumnya adalah di sebuah taman. Lalu kamu menyatakan cinta padaku."
Wajahku merah padam. Aku tersenyum dan mengangguk.
"Tapi kupikir-pikir lagi." ujarmu tiba-tiba.
"Mana pernah bisa aku lupa kamu bilang cinta padaku?" lanjutmu. "Mungkin di masa depan aku bisa lupa dengan kencan-kencan kita. Aku mungkin lupa dengan kaus dan sepatu apa yang kau gunakan. Aku bisa lupa makanan apa yang kita makan. Aku bisa saja lupa bahwa aku cinta padamu. Tapi aku tak pernah lupa bahwa pada suatu taman kamu pernah bilang kamu cinta padaku."
Aku hanya terdiam. Ada bagian yang tak mengerti dari kalimatmu yang membuatku sedikit merinding.
"Pulang?" ajakku.
"Ayo."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar