Lalu jam berapa aku harus pulang, tanyaku dalam hati.
“Sesukamu lah.” Suaramu terdengar. Mendesis bagaikan menyelinap diam-diam di tengah malam. Sekarang pukul satu malam kurasa. Dulu waktu kecil, jam-jam segini adalah jam-jam paling mengerikan. Orang-orang dulu berkata bahwa jam satu malam adalah jam dimana hantu-hantu mulai keluar.
Mungkin ada benarnya juga karena setelah aku besar pun hantu tetap ada. Tapi hantu pada akhirnya hanyalah manusia. Selalu manusia.
Masih pukul satu, aku curiga waktu enggan berjalan cepat jika aku bersamamu. Kamu duduk di beranda rumahmu dan aku sibuk merokok di halaman rumahmu sembari berpikir jenis dari masing-masing pohon yang tertanam di rumahmu.
Rumahmu tidak besar, tapi aku selalu kagum melihat halaman rumahmu. Dulu saat ayahmu masih hidup ia akan selalu menceritakan dengan gembira tentang tamannya ini. Bagaimana ia mencari bibit, mengaduk pupuk, menyirami, menghilangkan hama. Ia selalu menceritakan dengan bahagia seakan-akan tumbuhan-tumbuhan ini adalah anak-anaknya.
Ada yang bilang bahwa orang menanam karena ingin merasa di butuhkan. Manusia itu selalu ingin dihargai kontribusinya dan tanaman adalah yang paling jujur. Ia akan tumbuh indah saat dirawat dengan baik atau mati saat ia tidak diperhatikan. Mungkin benar. Mungkin juga tidak.
Sepeninggal Ayahmu taman ini masih tampak terurus padahal aku tahu benar bahwa kamu tak pernah peduli pada taman ini. Kamu lebih memilih duduk di bangku memandang kosong. Tapi tumbuhan-tumbuhan ini tetap tumbuh indah seakan mengucapkan terima kasih tak berujung pada almarhum.
“Apa kamu ingat,” tanyaku tiba-tiba.
Kamu lalu memandangku. Terlihat dari rautmu kamu baru saja membuyarkan beberapa angan tentang sesuatu. Bibirmu terbuka, suaramu kembali keluar tapi tak lagi berupa desisan.
“Ingat tentang apa?”
“Ayahmu pernah bercerita tentang tumbuhannya yang diambil dari Santa Fe.” Ujarku. “ Kamu masih ingat yang mana.”
Mendengar pertanyaanku mau tak mau kamu menggali ingatan. Telunjuk langsingmu perlahan bergerak dari pinggiran kursi menuju pelipis.
“Mungkin yang itu .” tunjukmu. Di ujung jari ada tanaman pendek berbunga putih. Tidak terlalu indah tapi ada pesona aneh yang sanggup membuat seseorang tertarik pada tanaman itu.
Mendengar jawabanmu aku mengangguk setuju. Sekarang pukul setengah dua. Hantu-hantu mungkin masih ada tapi aku harus segera pulang menemui istriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar